2020-12-26

Pasca Panen Kelapa Sawit

 

Hasil terpenting dari tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit yang dari ekstraksi daging buah (pericarp). Hasil lain yang tidak kalah penting adalah minyak inti sawit atau kernel yang juga diperoleh dengan cara ekstraksi.


Pertama tandan buah diletakkan di piringan Buah yang lepas di satukan dan dipisahkan dari tandan. Kemudian tandan buah dibawa ke Tempat Pengumpulan Buah (TPH) dengan truk tanpa ditunda. Di TPH tandan diatur berbaris 5 atau 10. Buah kelapa sawit harus segera diangkut ke pabrik untuk segera diolah. Penyimpanan menyebabkan kadar asam lemak bebas tinggi. Pengolahan dilakukan paling lambat 8 jam setelah panen.

Di pabrik buah akan direbus, dimasukkan ke mesin pelpas buah, dilumatkan didalam digester, dipres dengan mesin untuk mengeluarkan minyak dan dimurnikan. Sisa pengepresan berupa ampas dikeringkan untuk memisahkan biji dan sabut. Biji dikeringkan dan dipecahkan agar inti (kernel) terpisah dari cangkangnya.

Tahapan dari pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Perebusan (sterilisasi) TBS

TBS yang masuk kedalam pabrik selanjutnya direbus di dalam sterilizaer. Buah direbus dengan tekanan 2,5-3 atm dan suhu 130C selama 50-60 menit. Tujuan perebusan TBS adalah:

o   Menonaktifkan enzim lipase yang dapat menstimulir pembekuan freefatty acid

o   Membekukan protein globulin sehingga minyak mudah dipisahkan dari air

o   Mempermudah perontokan buah

o   Melunakkan buah sehuingga  mudah diekstraksi

2. Periontokan buah

Dalam tahap ini buah selanjutnya dipisahkan dengan menggunakan mesin tresher. Tandan kosong disalurkan ke temapat pembakaran  atau digunakan sebagai bahan pupuk organic. Sedangkan buah yang telah dirontokkan selanjutnya dibawa kemesin pelumatan. Selama proses perontokan buah, minyakl dan kernel yang terbuang sekitar 0,03%

3. Pelumatan  buah

Proses pelumatan buah adalah dengan memotong dan mencacah buah di dalam steam jacket yang dilengkapi dengan pisau berputar. Suhu didalam steam jacket sekitar 85-90oC.

Tujuan dari pelumatan buah adalah:

o   Menurunkan kekentalan minyak

o   Membebaskan sel-sel yang mengandungb minyak dari serat buah

o   Menghancurkan dinding sel buah sampai terbentuk pulp

4. Pengempaan (ekstraksi minyak sawit).

Proses pengempaanb bertujuan untuk membantu mengeluarkan minyak dan melarutkan sisa-sisa minyak yang terdapat didalam ampas. Proses pengempaan  dilakukan dengan melakukan penekanan dan pemerasan pulp yang dicampur dengan air yang bersuhu 95oC.  Selain itu proses ekstraksi minyak kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi, bahan pelarut dan tekanan hidrolis.

5. Pemurnian (klarifikasi minyak )

Minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari mesin ekstraksi minyak sawit umumnya masih mengandung kotoran berupa tempurung, serabut dan air ekitar 40-45% air. Untuk itu perlu dilakukan pemurnian minyak kelapa sawit. Presentase minyak sawit yang dihasilkan dalam oproses pemurnian sekitar 21%. Proses pemurnian minyak kelap sawit terdiri dari beberapa tahapan yaitu

a. pemurnian minyak di dalam tangki pemisah (clarification tank)

prinsip dari proses pemurnian minyak di dalam tangki pemisah adalah melakukan pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan sehingga campuran  minyak kasar dapat terpisah dari air.

b. Sentrifugasi minyak

dalam tahap ini minyak dimurnikan dari berbagai macam kotoran yang lebih halus lagi. Hasil akhir dari proses sentrifugasi ini adalah minyak dengan kadar kotoran kurang dari0,01%

c. Pengeringan hampa

Dalam tahap ini kadar air diturunkan sampai 0,1%. Proses penngeringan hampa dilakukan dalam kondisi suhu 95oC dan tekanan-75cmHg.

d. Pemurnian minyak dengan tangki lumpur

Proses pemurnian didalam tangki lumpur bertujuan untuk memisahkan minyak dari lumpur.

e. Strainer

Dalam tahap ini minyak dimurnikan dari sampah halus

f. precleaner

proses precleaner bertujuan untuk memisahkan pasir pasir harus dari sludge.

g. Sentrifugasi lumpur

Dalam tahap ini minyak dimurnikan kembali dari air dan kotoran. Prinsip yang digunakan adalah dengan memisahkan bahan berdasarkan berat jenis masing-masing bahan.

h. Setrifugasi pemurnian minyak

Tahap ini hampir sama dengan sentrifugasi lumpur, hanya putaran sentrifugasi lebih cepat.

i. Pengeringan minyak

Dalam proses pengeringan minyak, kadar air yang terkandung di dalam minyak diturunkan. Proses ini berlangsung dalkam teklanan -75cmhHg dan suhu 95oC

6. Pemisahan biji dengan Serabut (Depeicarping)

Ampas buah yang masih mengandung serabut dan biji diaduk dan dipananskan sampai keduanya terpisah. Selanjutnya dilakukan pemisahan secara pneumatic. Serabut selanjutnya di bawa ke boiler, sedangkan biji disalurkan ke dalam nit cleaning atau polishing drum . Tujuannya agar biji bersih dan seragam.

7. Pengerinagn dan pemisahan inti sawit

Setelah dipisahkan dari serabut, selanjutya biji dikeringkan dalam silo dengan suhu 56oC selama 12-16 jam. Kadar air biji diturunkan sampai 16%. Proses pengeringan menyebabkan inti sawit menyusut sehingga mudah untuk dipisahkan. Untuk memisahkan inti sawit dari tempurungnya digunakan alat hydrocyclone separator. Setelah terpisah dari tempurungnya inti sawit selanjutnya dicuci sampai bersih. Proses slanjutnya inti dikeringkan sehingga kadar airnya tinggal 7,5%. Proses pengeringan dilakukan dalam suhu di atas 90oC.

Standar Produksi

Standar produksi ini meliputi : klasifikasi dan standar mutu,, car pengujian, pengambilan sampel, dan cara pengemasan.

Standar mutu

Standar mutu kelapa sawit di Indonesia tercantum di dalam Standar Produksi SP N10 1975

Klasifikasi

Inti sawit digolongkan dalam satu jenis mutu dengan nama “ Sumatra Palm Kernel”. Adapun syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1.    Kadar minyak minimum (%) : 48; cara pengujian SP-SMP-13-1975

2.    Kadar air maksimum(%): 8,5 ; cara pengujian SP-SMP-7-1975

3.    Kontaminasi maksimum(%): 4,0 ; cara pengujian SP-SMP-31-1975

4.    Kadar inti pecah maksimum(%): 15 ; cara pengujian SP-SMP-31-1975

Produksi minyak kelapa sawit sebagai bahan pangan memilki dua aspek kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan  kejernihan serta kemurnian produk.

Kelapa sawit dengan mutu prima (SQ, Special Qualiti) seperti yang dihasilkan Malaiyia mengandung asam lemak (FFA:Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2% pada saat pengapalan, kualitas standard minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih 5% FFA.

Stelah pengolaha, kelapa sawit bermutu akan menghasilkan rendeman minyak 22,1-22,2%(tertinggi) dan kadar asam lemak bebas 1,2-1,7% (terendah).

Pengambilan contoh

Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan maksimum 30 karung tiap partai barang, kemudian tiap karung diambil contoh maksimum 1 Kg. contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur dan dari campuran tersebut di ambil 1 kg untuk dianalisa.

Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah berpengalaman dan dilatih terlabih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

Pengemasan

a) Cara pengemasan : inti kelapa sawit dikemas dalam karung goni kuat, bersih, kering dan kuat dengan berat bersih 50-80kg dan dijahit menyilang pada ujung karungnya atau dikapal kan secara “bulk”.

b)  Pemberian merek: nama barang jenis mutu, identitas penjual, produce of Indonesia,  berat bersih, nomor karung, identitas pembeli, pelabuhan/negara tujuan.


Sumber

https://habibiezone.wordpress.com/2010/04/10/pasca-panen-dan-standar-produksi-kelapa-sawit/

Pemanenan Kelapa Sawit


Sistem panen

Standar panen yang digunakan antara satu perusahaan dan perusahaan lain kemungkinan berbeda. Tandan buah matang harus mempuyai pagar 1 brondolan di piringan sebagai tanda buah tersebut siap di panen Pelepah yang dipotong dan disusun rapi pada gawangan mati

Rotasi panen di pertahankan pada interval 7-10 hari TBS dan brondolan sudah disusun rapi di TPH (tempat pemungutan hasil) untuk pengangkutan ke pabrik Tangkai buah dipotong dan seluruh kotoran tandan (tbs) di bersihkan sebelum pengangkutan Tingkat ekstraksi minyak> 22% dan kandungan ABL Tingkat ekstraksi minyak> 22% dan kandungan ABL <2%



PEMANENAN PERSIAPAN

  1. Persiapan Pemanenan

Pelaksanaan panen buah perlu memperhatikan: Kondisi areal, Penyediaan tenaga kerja pemotong buah, pembagian seksi potong buah, dan penyediaan alat alat kerja.

Seksi potong buah harus di susun sehingga rupa blok yang akan dipanen setiap hari akan terkonsentrasi (tidak terpencar-pencar), selain itu juga harus dihindari adanya potongan potongan ancak panen, agar satu seksi selesai pada satu hari.

Semua tenaga kerja panen harus tiba diancak panen sedini dan sepagi mungkin, untuk meningkatkan produktifitas dan out put tenaga kerja pemanen. Pemanen harus menjaga peralatannya dalam keadaan baik, dan tajam.

  1. Pemanen

Pemanen mencari buah yang masak, dan melihat buah yang brondol di tanah. Jika pengambilan buah tidak dapat dilakukan tanpa memotong pelepah yang dibawahnya, maka pelepah ini harus dipotong terlebih dahulu dan dirumpuk, di ini harus dipotong terlebih dahulu dan dirumpuk di gawangan. Potong buahnya, potong tangkai buah sependek mungkin.

Tunas yang dibuang harus seminimal mungkin dan seperlunya jika mungkin dengan mengikuti aturan dengan ketentuan meninggalkan 2 (dua) pelepah dibawah buah.

Pelepah yang ditunas harus disebar di gawangan, laporan untuk tidak menutup pasar pikul, piringan dan parit. Tidak ada buah masak yang tertinggal karena ini akan terlalu masak pada rotasi berikutnya. Ketika memotong pelepah pemanen harus memotong

rapat pada batang. Jangan memanen buah mentah karena akan mengakibatkan hilangnya minyak dan kernel. Semua brondolan harus dikutip, termasuk yang masuk ke ketiak pelepah kelapa.

 

Usahakan jangan terlalu banyak memindahkan buah hasil pemanenan karena akan mengakibatkan kenaikan FFA. Gagang tangkai buah harus pendek, karena gagang yang panjang akan mengganggu pengangkutan dan menyerap banyak minyak pada fase proses awal menyerap banyak minyak pada fase proses awal pengolahan. Keluarkan brondolan dari buah busuk, atau terlalu masak dan janjang kosongnya jangan di bawa ke pabrik.

Buah tidak tercampur pasir dan sampah terutama sewaktu mengutip brondolan, karena ini menyebabkan kerusakan pada mesin-mesin pabrik. Usahakan mencegah pengiriman buah ke pabrik.

Buah dengan bagian gagang dibawah, disusun 5 atau 10 baris, untuk memudahkan penghitungan dan pemeriksaan kematangan buah. Jika rotasi panen dapat dipertahankan akan mengurangi pengutipan brondolan.

 

  1. Kebutuhan Pemanen dan Pembrondol

Pada aktual jumlah pemanen dan pembrondol diperhitungkan 1: 1, pada periode produksi rendah (tanaman rendah) jumlah pembrondol bisa lebih sedikit dari jumlah pemanen. Pemanen dan pembrondol agar diupayakan sebagai karyawan (SKU). Kebutuhan

pemanen dihitung.

Untuk perencanaan jumlah pemanen pada areal baru yang belum diketahui produktivitas secara rata-rata, maka perkiraan perkiraan kebutuhan pemanen dihitung:

Areal datar yang di panen dengan dodos - 0,04 hk / ha. Areal gambut / bukit yang dipanen dengan dodos - 0,06 hk / ha

TATA LAKSANA PANEN / PRODUKSI

  1. Angka Kerapatan Panen

Manfaatnya: untuk membina kebutuhan tenaga pemanen yang menyediakan sarana transportasi. Pohon contoh: sebanyak 100 pohon per blok (16-25 ha). Diambil dari baris no .5,15,35,45 masing-masing sebanyak 20 pohon. Hitung tandan yang sudah bisa dipanen keesokan harinya, misalnya 24 tandan. Kerapatan panen (KP) = 24/100 = 0,24 atau 1: 4 artinya dari setiap 4 pohon akan dipanen 1 tandan matang. Bila berat rata-rata 1 tandan = 12 kg. Maka prakiraan panen: 0,24 x 2.240 x 12 kg = 6.451 kg

Bila kapasitas (PN = Prestasi Normal) 1 orang tenaga panen = 800 kg diperlukan 8 orang pemanen. Truk / kendaraan sesuaikan dengan produksi tersebut.

 

  1. Rotasi Panen

Rotasi adalah: waktu yg di butuhkan antara panen terahir dengan panen berikutnya pada tempat yg sama. Perkebunan kelapa sawit pada umumnya menggunakan rotasi panen 7 hari yaitu satu areal harus dimasuki oleh pemanen tiap 7 hari Rotari panen di anggap baik bila buah tidak terlalu Rotasi panen di anggap baik bila buah tidak terlalu matang, yaitu dengan menggunakan sistem 5/7 artinya dalam satu minggu ada 5 hari 2 hari untuk sisa pemeliharaan alat panen dan masing-masing ancak panen diulang 7 hari berikutnya. Rotasi panen di afdelling / kebun diatur dan tak terkalahkan dengan hari kerja pabrik yakni sebagai berikut: 6/7: 6 hari memanen dengan rotasi 7 hari (Senin -

Sabtu) (biasanya hanya pada waktu musim panen puncak 5/7: 5 hari memanen dengan rotasi 7 hari (Senin - Jumat)

 

  1. Kapveld

Kapveld yaitu luas areal panen harian, sebagai Contoh: (Untuk Senin-Kamis @ 170 ha atau 11 blok / hari sedangkan pada hari jumat panen hari pendek hanya 6 blok)

 

  1. Sistem panen

Untuk memudahkan pelaksanaan panen dan memastikan produktifitas panen yang tinggi mandor menentukan sistem ancak / petak. Satu ancak terdiri dari 2-4 baris tanaman yang tergantung pada kerapatan buah masak. Area panen harus di bagi menjadi 5- / 6 bagian tergantung dari berapa hari kerja. Sistem pengancakan terdiri dari 3 sistem yaitu: pengancakan terdiri dari 3 sistem yaitu: · ancak giring murni · ancak giring tetap · ancak tetap

a. Sistem ancak giring

Pada sistem ancak giring setiap pemanen melaksanakan panen pada ancak panen yang

ditentukan setiap hari panen oleh mandor panen bagian areal panen selalu berubah di sesuaikan dengan kerapatan panen dan kehadiran tenaga kerja pemanen. Pada sistem ini berlalu suatu ancak telah selesai dipanen pemanen pindah ke ancak berikutnya

ancak berikutnya bersafat tetap dan bersifat tidak tetap begitu dikenal dengan sistem ancak giring murni (tdk tetap) dan sistem giring tetap. Pada sistem ini pemanen secara bersama-sama memanen di I blok. Setelah selesai pindah ke blok lain. Satu orang

pemanen memanen tiap 2 baris (1 gawangan). Kemudian berpindah kebaris yang belum dipanen, dan seterusnya sampai selesai 1 blok dan pindah ke blok lain.

Sistem ancak giring murni cocok untuk areal tanaman (tanaman muda) jumlah pemanen yang cukup banyak per mandor memudahkan transportasi buah dan kemungkinan ancak tertinggal kecil. Kelemahan dari sistem ancak giring murni adalah kurang tanggung jawab

jawabnya pemanen terhadap kondisi ancak karena ancaknya selalu berubah dari waktu ke waktu sulit ancaknya selalu berubah dari waktu ke waktu sulit ditelusuri pemanen yang melakukan kesalahan, produkifitas pemanen rendah karena kehilangan waktu akibat pindah dari ancak 1 ke ancak lainnya. Sebagai perbaikan dari ancak giring murni ini di kembangkan sistem ancak giring tetap pada sistem ini pemanen pindah dari ancak 1 ke ancak lainnya dengan ancak yang tetap.

Cara berpindahnya:

Ancak giring orang tetap: pemanen pertama mengambil gawangan pertama pada berikutnya. Ancak giring orang tidak tetap: gawangan pertama pada berikutnya yang dikerjakan oleh siapa saja / pemanen yang terlebih dahulu selesai. Keuntungan sistem ancak giring: buah dapat segera diangkut ke pabrik dan kontrol oleh mandor lebih mudah. Secara skematis, sistem panen ancak giring dapat terlihat.

b. Sistem ancak panen tetap

Pada sistem ini pemanen melaksanakan panen pada areal yang sama dikerjakan secara rutin bertanggung jawab menyelesaikan ancak sesuai dengan tanggung jawab yang ditentukan telah setiap hari tanpa ada yang tertinggal, pemanen tidak bekerja maka mandor harus mencari pekerja, sistem ini cocok di terapkan pada areal yang tofografi terbuka / cocok di terapkan pada areal yang tofografi terbuka / curam dan dengan tanam yang berbeda. Pada sistem pemanen di beri ancak dengan luasan tertentu dan tidak berpindah-pindah hal tsbt membantu di perolehnya TBS dengan kematangan yang optimal, rendeman minyak yang di hasilkan tinggi namun kelemahan sistem ini buah lebih lambat keluar sehingga lambat pula sampai ke pabrik. Sebagai

contoh Blok A = 16 ha, ada 50 baris dipanen oleh 5 orang. Orang ke I memanen baris 1-10, orang ke II baris ke 11 - 20 dan seterusnya.

 

  1. Organisasi Panen

Persiapan kebutuhan tenaga Dasar Luasan = Luas areal yang dipanen / kemampuan

pemanen. Pelaksan ketentuan panen: pemanen diawasi oleh seorang mandor. Tiap mandor panenan 15-50 pemanen (luasan 50-60). Kebutuhan tenaga kerja

Pada aktual jumlah pemanen dan pembrondol yang dibutuhkan 1: 1 pada daerah tertentu pembrondol lebih sedikit. Pemanen dan pembromdol ini digunakan sebagai pegawai tetap perusahaan karena bila digunakan sebagai buruh tetap harian maka mandor akan sulit mendapatkan pemanen yang terampil dalam jumlah yang sesuai untuk pemanen suatu luasan areal tertentu, sehingga tandan yang tidak dapat terpanen pada waktu yang tepat tidak akan Dapat terpanen pada waktu yang tepat akn

menurun kualitasnya. Dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja pemanen berdasarkan berbagai faktor antara lain: topografi, jenis alat angkut yg di gunakan, umur pekerja, norma kerja, sistem panen dan faktor lainnya.

 

  1. Cara Panen
  • Pelepah yang menyangga (songgo) buah matang dipotong
  • Tandan matang dipotong tangkainya
  • Brondolan yang ada diketiak pelepah diambil / dikorek
  • Tandan dibawa ke jalan pikul, brondolan di piringan dikumpulkan
  • Pelepah disusun digawangan dan dipotong menjadi 3 bagian.
  • Setelah selesai pindah ke pohon berikutnya.

 

  1. Pengumpulan ke TPH (Tempat Pengumpulan Hasil)
  • Buah diangkut dengan goni / pikulan atau kereta sorong ke TPH setelah selesai memanen 2 jam
  • TPH 1: 6, 1 TPH tiap 6 gawangan
  • Tangkai tandan dipotong mepet atau bentuk huruf V (cangkem / mulut kodok)
  • Tandan disusun tiap 10 tandan (tandan kecil) atau 5 (bila tandan besar)
  • Nomor pemanen ditulis pada tangkai tandan

 

  1. Prestasi Panen

Kapasitas Panen / Basis Tugas / Prestasi Normal: Jumlah kg tandan yang harus dibutuhkan dalam 1 hari kerja oleh tiap-tiap pemanen Basis Borong / Basis Premi: Jumlah kg TBS dalam basis tugas yang tidak dapat preminya / hanya upah standar

Besaran panen dan basis borong ditentukan oleh umur tanaman, keadaan buah (kerapatan panen), topografi areal, semakin sulit pelaksanaan panen berdasarkan borongnya diturunkan.

Contoh basis borong (BB)

Keterangan: pada umur 3-4 tahun dengan produksi 8 ton TBS / ha / thn dan berat rata-rata tandan 4 kg per pemanen harus memanen 250/4 = 62 tandan tiap hari untuk mencapai nilai minimum / basis borong. Untuk hasil panen yang lebih dari 62 tandan maka tentang kelebihannya yang diberikan premi

Sumber

http://ptpn1.co.id/artikel/standar-panen-kelapa-sawit#:~:text=Langsa%2C%2021%2D11%2D2018,pabrik%20Kelapa%20Sawit%20(PKS).

 

 

 

 

 

Sarana dan Prasarana Panen Kelapa Sawit

Panen adalah pengambilan buah kelapa sawit yang telah memenuhi kriteria matang panen dari pokok sawit, juga bersama brondolan yang berjatuhan di sekitar piringan, lalu dikumpulkan ke TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) dan diangkut dengan truk untuk dibawa ke PKS (Pengolahan Kelapa Sawit). Pekerjaan rawat dilakukan langsung oleh karyawan yang ada di Afdeling,  dikoordinir langsung oleh mandor panen, diawasi oleh Kepala asisten lapangan dan dikontrol oleh Kepala Kebun sekaligus penanggung jawab keadaan atau kondisi panen di areal. Item pekerjaan panen meliputi pemangkasan pelepah yan disusun rapi digawangan mati, lalu menurunkan buah yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan yaitu brondolan yang jatuh dipiringan resmi sebanyak 5 buah dan pada janjangan lebih dari 10 buah, kemudian memungut buah dan mengambil brondolan yang berjatuhan sampai tuntas, sambil memotong pangkal janjang seperti cangkam kodok, setelah itu ditaruh di tempat TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) yang setelah itu akan diangkut oleh transportasi ke tempat PKS (Pengolahan Kelapa Sawit).

Sebelum melakukan pekerjaan panen, masing-masing karyawan sudah mendapat ancak dan tempat kerja yang sudah ditentukan oleh mandor panen yang bertugas membuat planning panen sebelum direalisasikannya ke areal dan melakukan sensus pada areal yang akan menjadi lokasi tempat panen. Ancak panen adalah luasan panen yang menjadi tanggung jawab pemanen. Ancak panen ada dua macam yaitu ancak tetap, pada sistem ini pemanen mempunyai areal panen yang tetap. Contoh: blok A 2 luasnya 30 Ha, jumlah baris = 120, jumlah ancak = 12, masing-masing pemanen mendapat ancak 10 baris, maka pembagian ancaknya yaitu ancak 1 = baris 1s/d 10, ancak 2 = baris 11 s/d 20 dan seterusnya. Ancak giring, pada system ini pemanen secara bersam-sama memanen dalam satu blok, stetelah selesai pinadh ke blok lain. Satu orang pemanen memanen tiap satu path, kemudian pindah ke path yang belm dipanen dan seterusnya sampai selesai 1blok lalu pindah ke blok lain (Anonim, 2006). Sebelum ancak dilakukan harus dikoordinasikan terlebih dahulu kepada kepala kebun dan kepala asisten lapangan dan kegiatan panen terdiri dari persiapan panen dan pelaksanaan panen.

a)  Persiapan Panen

    Merupakan sarana dan prasarana yang dapat mempermudah didalam kegiatan panen seperti alat-alat panen (helm, sarung tangan, sepatu boat, kaca mata, dodos, egrek, kampak, gancu, batu asah, angkong, karung alas brondolan dan garuk brondolan). 

     Prasarana pendukung didalam panen meliputi:

a.   TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) yaitu sebidang lahan yang dibuat khusus untuk mengumpulkan buah (TBS dan brondolan), terletak pada gawangan tanaman dan berada setiap 3 path, ukurannya 3 x 4 m dan 4 x6 m. Setiap TPH diberi identitas (blok, nomor baris dan nomor TPH)diberi warna cat dasar merah dan tulisan berwarna putih, sehingga mempermudah untuk mengetahui hasil yang telah dipanen dan bisa mempermudah buah dalam pengangkutan ke PKS.


b.   Jalan Panen (Path) yaitu jalan diatara dua barisan tanaman yang digunakan untuk lalu lintas pengangkutan hasil panen dari dalam blok ke TPH yang biasa disebut pasar pikul. Ukuran lebar jalan 1.2 -1.5 m, letaknya searah barisan tanaman untuk areal datar dan mengikuti contour untuk daerah berbukit, untuk mempermudah pemanen menuju TPH. Path harus bersih dari tanaman liar gulma lainnya, supaya tidak menghambat pemanen dalam mengangkut buah.

Titi Panen adalah jembatan kecil yang dibuat sederhana dari kayu atau timbunan karung yang

lebarnya 20 cm dan tinggi 7 cm, supaya memudahkan pemanen membawa buah ke tempat

TPH yang harus menyeberangi selokan kecil. 



Taksasi Produksi Kelapa Sawit

Angka kerapatan panen (AKP) atau Taksasi produksi adalah suatu perkiraan produksi hasil tanaman yang dibudidayakan. Taksasi produksi pada kelapa sawit dilakukan untuk memperkirakan produksi 6 bulan, 3 bulan dan 1 bulan yang akan datang atau 1 hari sebelum panen.

Angka Kerapatan Panen atau Taksasi Produksi Kelapa Sawit

Fungsi taksasi panen adalah untuk memprediksi angka kerapatan panen, menentukan dan mengatur kebutuhan tenaga kerja, penyediaan sarana transportasi atau angkutan panen.
Taksasi panen dilakukan pada tanaman dengan umur yang seragam. Dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan juni dan desember. Penghitungan diambil secara sample sebanyak 5 % dari populasi tanaman.

Hal yang dapat mempengaruhi kerapatan panen adalah iklim, panjang rotasi panen, dan topografi lahan.
Taksasi panen semesteran adalah kegiatan meramalkan produktivitas kebun pada enam bulan ke depan. Taksasi semesteran digunakan untuk menentukan budget yang harus dipenuhi oleh setiap divisi.
Taksasi panen harian adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperkirakan produksi TBS yang akan diperoleh besok. Hal tersebut juga bisa memperkirakan kebutuhan tenaga pemanen dan memperkirakan jumlah transportasi untuk mengangkut hasil panen. Buah yang diperkirakan bisa dipanen dicirikan dengan brondolan yang terdapat di piringan sebanyak lima brondolan. Persentase AKP didapatkan dengan mengambil contoh 100 pohon dari areal yang akan dipanen esok hari dengan rumus:
% AKP =  (jumlah tandan matang / jumlah tanaman contoh) x 100%
  • Manfaatnya : untuk mengatur kebutuhan tenaga pemanen yang menyediakan sarana transport.
  • Pohon contoh: sebanyak 100 pohon per blok (16-25 ha). Diambil dari baris no .5,15,35,45 masing-masing sebanyak 20 pohon.
  • Hitung tandan yang sudah bisa dipanen keesokan harinya, misalnya 24 tandan. Kerapatan panen (KP)= 24/100 = 0,24 atau 1 : 4 artinya dari setiap 4 pohon akan dipanen 1 tandan matang. Bila berat rata-rata 1 tandan = 12 kg. Maka prakiraan panen : 0,24 x  2.240 x 12 kg = 6.451 kg
  • Bila kapasitas (PN = Prestasi Normal) 1 orang tenaga panen = 800 kg diperlukan 8 orang pemanen.
  • Truk/kendaraan sesuaikan dengan produksi tersebut. 




sumber
http://jacq-planter.blogspot.com/2014/10/angka-kerapatan-panen-atau-taksasi.html#:~:text=Taksasi%20produksi%20pada%20kelapa%20sawit,sarana%20transportasi%20atau%20angkutan%20panen.

Ciri-ciri Tandan Buah Sawit (TBS) yang Layak Panen

 

Tujuan utama membudidayakan kelapa sawit adalah memperoleh buahnya. Karena ukurannya kecil, para petani akan memanen buah sawit beserta tandannya untuk menghemat waktu. Jadi buah sawit ini tidak dipetik satu per satu, melainkan dipotong per tandan. Maka tak heran bila tidak semua buah sawit dalam keadaan sudah matang. Pertanyaannya apakah petani merugi? Tentu tidak karena sudah ada kriteria-kriteria mengenai TBS (Tandan Buah Sawit) yang layak untuk dipanen.


Dengan bekerja berdasarkan aturan-aturan yang telah ditentukan, kita tetap bisa menjaga laba atau keuntungan hasil dari budidaya kelapa sawit. Tugas Anda sebagai pemilik perkebunan ialah memastikan semua pekerja melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan aturan-aturan ini. Kemudian lakukan pula evaluasi terhadap kinerja masing-masing pemetik TBS. Karena menjadi muara dari bisnis kelapa sawit, jangan sampai Anda dirugikan oleh ulah pekerja yang tidak patuh terhadap peraturan.

Kenyataannya kuantitas dan kualitas produksi minyak kelapa sawit yang mampu dihasilkan oleh suatu perkebunan tergantung oleh berbagai faktor, di mana salah satunya tingkat kematangan buah pada saat dipanen. Sebisa mungkin proses ini harus menghasilkan TBS yang segar dalam kematangan yang optimal. Pemanenan TBS yang masih mentah menyebabkan berkurangnya kuantitas produksi minyak. Sebaliknya pemanenan TBS yang terlalu matang justru akan mengurangi kualitas minyaknya karena terlalu tinggi mengandung asam lemak bebas.

Pahami  ciri-ciri TBS (Tandan Buah Sawit) yang sudah memenuhi kriteria layak panen di bawah ini!

1.    Paling tidak ada 5 buah TBS yang terlepas atau jatuh sendiri dari pohon kelapa sawit yang berat masing-masingnya kurang dari 10 kg. Atau ada minimal 10 buah TBS yang terlepas/terjatuh sendiri yang mempunyai bobot masing-masing lebih dari 10 kg.

2.   Sebagian buah kelapa sawit sudah terlepas dari tangkainya dan terjatuh sendiri di piringan (memberondol). Untuk pohon yang usianya belum mencapai 10 tahun, jumlah berondolannya sekitar 10 buah. Sedangkan pada pohon yang sudah berumur lebih dari 10 tahun, jumlah berondolannya sekitar 15-20 buah.

3.  Setiap bobot 1 kg TBS kelapa sawit mempunyai berondolan paling tidak sebanyak 2 buah. Kriteria panen yang diharapkan dari prinsip ini yaitu tingkat kematangan buah sudah mencapai fraksi kematangan 1-3, di mana prosentase buah luar yang terjatuh berkisar antara 12,5-75 persen.

4.  Pada tanaman muda yang baru pertama kali belajar menghasilkan buah, kriterianya agak berbeda. Ciri-cirinya yaitu sudah ada minimal 1-2 buah kelapa sawit yang terlepas sendiri dari tandannya, mengingat ukuran tandan yang masih cukup kecil sehingga buahnya lebih cepat mencapai tingkat kematangan yang sempurna.

5.    Lebih dari 60 persen dari TBS yang dihasilkan oleh tanaman kelapa sawit per individu sudah mencapai tingkat kematangan yang tepat. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan memeriksa setiap tanaman, lalu mencatat hasilnya.

Rata-rata pohon kelapa sawit mampu menghasilkan 20-22 TBS per tahun. Setelah mencapai puncak produksinya, tingkat produktivitas tanaman kelapa sawit ini akan semakin menurun sampai 12-14 TBS per tahun. Kematangan TBS dapat dilihat secara visual maupun fisiologi. Buah sawit yang matang terlihat dari perubahan warna kulitnya menjadi jingga kemerah-merahan. Sedangkan secara fisiologi, buah sawit yang telah matang mempunyai kandungan minyak yang optimum dengan kadar asam lemak bebas yang minimal.

Anda bisa menggunakan pedoman dari tabel di bawah ini untuk mempermudah pelaksanaan pemanenan kelapa sawit di lapangan.

 



 sumber

https://blog.tokotanaman.com/ciri-ciri-tandan-buah-sawit-tbs-yang-layak-panen/