2020-12-25

Lokasi Pembibitan Kelapa Sawit



Sebelum membangun kebun pembibitan maka terlebih dahulu dipilih dan ditetapkan lokasi pembibitan. Lokasi pembibitan akan berpengaruh terhadap seluruh kegiatan yang di lakukan dalam proses pembibitan. Dengan demikian lokasi pembibitan memiliki arti penting dalam produksi bibit.

Lokasi pembibitan hampir sama dengan lokasi areal pertanaman komoditi perkebunan. Keduanya harus dipersiapkan secara baik. Lokasi pembibitan harus dipersiap kan sesuai dengan persyaratan yang ada sehingga proses pembibitan berlangsung lancar dan akhirnya diperoleh bibit bermutu tinggi

Sebaliknya bila kita melakukan ke giatan pembibitan pada lokasi yang tidak sesuai persyaratan, maka bibit yang dihasilkan tidak bermutu. Bila bibit yang diperoleh tidak bermutu maka setelah ditanam di lapangan akan diperoleh hasil tidak bermutu pula. Bila hasil perkebunan tidak bermutu maka nilai/harga jualnya sangat rendah, sehingga diperoleh kerugian yang besar. Bila diperoleh kerugian terus menerus maka dapat berakibat buruk bagi pengusaha. Penyiapan lokasi pembibitan harus sesuai dengan persyaratan/ kriteria yang telah ditetapkan, sehingga akan diperoleh bibit bermutu tinggi.

Ada beberapa kriteria lokasi pembibitan yaitu:

a. Dekat dengan sumber air dan air tersedia cukup banyak; artinya tempat pembibitan mudah mem peroleh air untuk kebutuhan pe nyiraman, terutama pada musim kemarau.

b. Tempat pembibitan memiliki topo grafi datar; artinya tempat ham paran bibit berada pada areal yang relatif datar, sehingga me ngurangi erosi akibat hujan lebat.

c. Lokasi pembibitan strategis; arti nya berada pada posisi yang mudah dijangkau dari segala penjuru. Sedapat mungkin di tengah-tengah kebun.

d. Terlindung (aman) dari terpaan angin dan sinar matahari

e. Aman; artinya jauh dari sumber hama dan penyakit, sanitasi lingkungannya baik dan terbuka serta tidak terhalang oleh pohon besar atau bangunan.

Pemilihan lokasi pembibitan ber tujuan untuk menempatkan pembibit an pada lokasi yang sesuai agar dapat diperoleh/dihasilkan bibit yang berkualitas tinggi. Kegiatan awal sebelum pemilihan lokasi yaitu dilakukan peninjauan ke lokasi rencana pembibitan. Hal ini penting dilakukan, terutama pada lokasi yang baru dibuka, misalnya hutan atau areal yang belum dikenal. Tujuan utama dari peninjauan lokasi rencana pembibitan adalah untuk mengetahui keberadaan sumber air yang dapat menjamin tersedianya air, baik dalam volume dan debit yang memadai. Cara peninjauan lokasi rencana pembibitan dapat dilakukan antara lain dengan bantuan peta topografi dan peta survei tanah. Setelah mengetahui kriteria tempat atau lokasi pembibitan, kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan mewujudkan tempat pembibitan sesuai kriteria yang ada.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi pembibitan yaitu sebagai berikut:

1.       Ketersediaan air

Bibit tanaman sangat sensitif ter hadap kebutuhan air. Karena itu, jika Anda terlambat memberikan air penyiraman/pengairan maka bibit tanaman akan merespon secara langsung. Akibatnya bibit tanaman akan layu, lama kelamaan mengering dan akhirnya mati. Kebutuhan air (jumlah dan mutu) harus ditentukan sebelum memulai penyiapan lokasi, sehingga sumber air yang ada harus dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Jika kualitas air diragukan maka contoh air sebaiknya dianalisis untuk me nentukan kandungan sedimen dan polutan atau bahan kontaminan.

2.       Tempat

Pemilihan tempat pembibitan adalah hal penting untuk menyediakan kondisi optimal sehingga menghasil kan bibit berkualitas tinggi. Pada perkebunan baru, sangat penting untuk memetakan rencana pengem bangan perkebunan dan kemudian meletakkan pembibitan di tengah lokasi tersebut untuk meminimalkan jarak dan waktu transportasi. Lokasi yang berada di tengah juga akan membantu kemudahan pe ngawasan dan pengamanan. Lokasi pembibitan sebaiknya datar, atau memiliki kemiringan kurang dari 15 %, dan mempunyai drainase yang baik. Bentuk lokasi pembibitan di usahakan menyerupai kotak atau persegi panjang, sehingga desain dan instalasi penyiraman lebih efi sien.

3.       Jalan

Lokasi pembibitan dipilih tempat yang tidak terisolasi, dan mempunyai jalan yang cukup lebar dan kuat agar kendaran dapat lewat pada periode penanaman. Jarak antara jalan angkut ke bedeng pembibitan tidak terlalu jauh, maksimal 50 meter.

4.       Drainase

Lokasi pembibitan sebaiknya tidak terkena banjir. Akibat banjir akan merusak pembibitan dan bangunan, atau adanya air yang tergenang merupakan awal stres pada bibit dan ketidak seimbangan nutrisi. Karena itu, pilih lokasi yang agak tinggi dari aliran air utama, atau pastikan bahwa ada saluran air keluar yang mem bantu sistem drainase.

5.       Media

Media u pengisian polybag harus berkualitas baik. Sifat-sifat tanah untuk pembibitan adalah tidak kedap air, gembur dengan kadar pasir tidak lebih 60%, dan bebas kontaminan. Tanah untuk pengisian polybag harus disaring untuk meng hilangkan kotoran, batu, ranting tanaman dan gumpalan besar. Tanah yang berpasir sebaiknya tidak dipergunakan karena tidak terbentuk perakaran yang baik dan bila polybag diangkat tanah akan berjatuhan.

6.       Areal

Areal pembibitan harus cukup luas untuk menampung rencana penanam an bibit dan keperluan sisipan atau sulaman. Kebutuhan hamparan areal pembibit an tergantung pada beberapa faktor yaitu:

a. Luas areal tanaman

b. Kebutuhan bibit tahunan

c. Kerapatan tanaman

d. Tipe pembibitan

Contoh perhitungan kebutuhan areal pembibitan tanaman kelapa sawit dengan sistem dua tahap (Ian dan Thomas, 2000) yaitu:

Misal tersedia lahan seluas 5.000 ha yang akan ditanami bibit kelapa sawit dengan kerapatan 136 pohon per hektar. Usaha agribisnis kelapa sawit secara bertahap akan dilakukan penanaman pada tahun pertama seluas 1.000 ha, dan 2.000 ha untuk penanaman setiap dua tahun sekali pada periode berikutnya.

Perhitungan secara rinci adalah se bagai berikut:

• Kebutuhan bibit untuk penanaman seluas 5000 hektar adalah 5000 x 136 = 680.000 bibit

• Kebutuhan bibit cadangan 5% 5/100 x 680.000 = 34.000 bibit

• Bibit afkir 15% 15/100 x 680.000 = 102.000 bibit Jadi total kebutuhan bibit untuk areal penanaman seluas 5.000 hektar = 680.000 + 34.000+ 102.000 = 816.000

Karena itu, harus menyediakan bibit dengan tahapan sebagai berikut: Kebutuhan bibit pada tahun pertama untuk ditanam seluas 1.000 hektar yaitu 816.000 : 5 = 163.000 bibit Jadi kebutuhan areal pembibitan pada tahun pertama

• Areal pembibitan (utama) dengan jarak tanam bibit 90x90 cm per hektar = 14.260 bibit
• Jadi untuk kebutuhan penanaman seluas 1000 hektar diperlukan luas pembibitan = 163.000 bibit : 14.260 bibit/ha = 11,4 ha

• Tambahan areal untuk pembibit an awal, jalan, naungan dan lainlain sekitar = 1,9 ha

·  Total areal pembibitan pada tahun pertama = 13,3 ha Jumlah keseluruhan areal pembibitan Tahun 1 = 13,3 ha Tahu 2-3 = 13,3 ha Areal cadangan (bibit kembar, bbit cadangan, dan bibit lanjut= 5,0 ha

Jadi total luas areal pembibitan untuk penanaman seluas 5.000 ha adalah sekitar 31,6 ha.


Lokasi: Wonosari, Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar