Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas XII. Tampilkan semua postingan

2020-12-26

Pasca Panen Kelapa Sawit

 

Hasil terpenting dari tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit yang dari ekstraksi daging buah (pericarp). Hasil lain yang tidak kalah penting adalah minyak inti sawit atau kernel yang juga diperoleh dengan cara ekstraksi.


Pertama tandan buah diletakkan di piringan Buah yang lepas di satukan dan dipisahkan dari tandan. Kemudian tandan buah dibawa ke Tempat Pengumpulan Buah (TPH) dengan truk tanpa ditunda. Di TPH tandan diatur berbaris 5 atau 10. Buah kelapa sawit harus segera diangkut ke pabrik untuk segera diolah. Penyimpanan menyebabkan kadar asam lemak bebas tinggi. Pengolahan dilakukan paling lambat 8 jam setelah panen.

Di pabrik buah akan direbus, dimasukkan ke mesin pelpas buah, dilumatkan didalam digester, dipres dengan mesin untuk mengeluarkan minyak dan dimurnikan. Sisa pengepresan berupa ampas dikeringkan untuk memisahkan biji dan sabut. Biji dikeringkan dan dipecahkan agar inti (kernel) terpisah dari cangkangnya.

Tahapan dari pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Perebusan (sterilisasi) TBS

TBS yang masuk kedalam pabrik selanjutnya direbus di dalam sterilizaer. Buah direbus dengan tekanan 2,5-3 atm dan suhu 130o C selama 50-60 menit. Tujuan perebusan TBS adalah:

o   Menonaktifkan enzim lipase yang dapat menstimulir pembekuan freefatty acid

o   Membekukan protein globulin sehingga minyak mudah dipisahkan dari air

o   Mempermudah perontokan buah

o   Melunakkan buah sehuingga  mudah diekstraksi

2. Periontokan buah

Dalam tahap ini buah selanjutnya dipisahkan dengan menggunakan mesin tresher. Tandan kosong disalurkan ke temapat pembakaran  atau digunakan sebagai bahan pupuk organic. Sedangkan buah yang telah dirontokkan selanjutnya dibawa kemesin pelumatan. Selama proses perontokan buah, minyakl dan kernel yang terbuang sekitar 0,03%

3. Pelumatan  buah

Proses pelumatan buah adalah dengan memotong dan mencacah buah di dalam steam jacket yang dilengkapi dengan pisau berputar. Suhu didalam steam jacket sekitar 85-90oC.

Tujuan dari pelumatan buah adalah:

o   Menurunkan kekentalan minyak

o   Membebaskan sel-sel yang mengandungb minyak dari serat buah

o   Menghancurkan dinding sel buah sampai terbentuk pulp

4. Pengempaan (ekstraksi minyak sawit).

Proses pengempaanb bertujuan untuk membantu mengeluarkan minyak dan melarutkan sisa-sisa minyak yang terdapat didalam ampas. Proses pengempaan  dilakukan dengan melakukan penekanan dan pemerasan pulp yang dicampur dengan air yang bersuhu 95oC.  Selain itu proses ekstraksi minyak kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi, bahan pelarut dan tekanan hidrolis.

5. Pemurnian (klarifikasi minyak )

Minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari mesin ekstraksi minyak sawit umumnya masih mengandung kotoran berupa tempurung, serabut dan air ekitar 40-45% air. Untuk itu perlu dilakukan pemurnian minyak kelapa sawit. Presentase minyak sawit yang dihasilkan dalam oproses pemurnian sekitar 21%. Proses pemurnian minyak kelap sawit terdiri dari beberapa tahapan yaitu

a. pemurnian minyak di dalam tangki pemisah (clarification tank)

prinsip dari proses pemurnian minyak di dalam tangki pemisah adalah melakukan pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan sehingga campuran  minyak kasar dapat terpisah dari air.

b. Sentrifugasi minyak

dalam tahap ini minyak dimurnikan dari berbagai macam kotoran yang lebih halus lagi. Hasil akhir dari proses sentrifugasi ini adalah minyak dengan kadar kotoran kurang dari0,01%

c. Pengeringan hampa

Dalam tahap ini kadar air diturunkan sampai 0,1%. Proses penngeringan hampa dilakukan dalam kondisi suhu 95oC dan tekanan-75cmHg.

d. Pemurnian minyak dengan tangki lumpur

Proses pemurnian didalam tangki lumpur bertujuan untuk memisahkan minyak dari lumpur.

e. Strainer

Dalam tahap ini minyak dimurnikan dari sampah halus

f. precleaner

proses precleaner bertujuan untuk memisahkan pasir pasir harus dari sludge.

g. Sentrifugasi lumpur

Dalam tahap ini minyak dimurnikan kembali dari air dan kotoran. Prinsip yang digunakan adalah dengan memisahkan bahan berdasarkan berat jenis masing-masing bahan.

h. Setrifugasi pemurnian minyak

Tahap ini hampir sama dengan sentrifugasi lumpur, hanya putaran sentrifugasi lebih cepat.

i. Pengeringan minyak

Dalam proses pengeringan minyak, kadar air yang terkandung di dalam minyak diturunkan. Proses ini berlangsung dalkam teklanan -75cmhHg dan suhu 95oC

6. Pemisahan biji dengan Serabut (Depeicarping)

Ampas buah yang masih mengandung serabut dan biji diaduk dan dipananskan sampai keduanya terpisah. Selanjutnya dilakukan pemisahan secara pneumatic. Serabut selanjutnya di bawa ke boiler, sedangkan biji disalurkan ke dalam nit cleaning atau polishing drum . Tujuannya agar biji bersih dan seragam.

7. Pengerinagn dan pemisahan inti sawit

Setelah dipisahkan dari serabut, selanjutya biji dikeringkan dalam silo dengan suhu 56oC selama 12-16 jam. Kadar air biji diturunkan sampai 16%. Proses pengeringan menyebabkan inti sawit menyusut sehingga mudah untuk dipisahkan. Untuk memisahkan inti sawit dari tempurungnya digunakan alat hydrocyclone separator. Setelah terpisah dari tempurungnya inti sawit selanjutnya dicuci sampai bersih. Proses slanjutnya inti dikeringkan sehingga kadar airnya tinggal 7,5%. Proses pengeringan dilakukan dalam suhu di atas 90oC.

Standar Produksi

Standar produksi ini meliputi : klasifikasi dan standar mutu,, car pengujian, pengambilan sampel, dan cara pengemasan.

Standar mutu

Standar mutu kelapa sawit di Indonesia tercantum di dalam Standar Produksi SP N10 1975

Klasifikasi

Inti sawit digolongkan dalam satu jenis mutu dengan nama “ Sumatra Palm Kernel”. Adapun syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1.    Kadar minyak minimum (%) : 48; cara pengujian SP-SMP-13-1975

2.    Kadar air maksimum(%): 8,5 ; cara pengujian SP-SMP-7-1975

3.    Kontaminasi maksimum(%): 4,0 ; cara pengujian SP-SMP-31-1975

4.    Kadar inti pecah maksimum(%): 15 ; cara pengujian SP-SMP-31-1975

Produksi minyak kelapa sawit sebagai bahan pangan memilki dua aspek kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan  kejernihan serta kemurnian produk.

Kelapa sawit dengan mutu prima (SQ, Special Qualiti) seperti yang dihasilkan Malaiyia mengandung asam lemak (FFA:Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2% pada saat pengapalan, kualitas standard minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih 5% FFA.

Stelah pengolaha, kelapa sawit bermutu akan menghasilkan rendeman minyak 22,1-22,2%(tertinggi) dan kadar asam lemak bebas 1,2-1,7% (terendah).

Pengambilan contoh

Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan maksimum 30 karung tiap partai barang, kemudian tiap karung diambil contoh maksimum 1 Kg. contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur dan dari campuran tersebut di ambil 1 kg untuk dianalisa.

Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah berpengalaman dan dilatih terlabih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

Pengemasan

a) Cara pengemasan : inti kelapa sawit dikemas dalam karung goni kuat, bersih, kering dan kuat dengan berat bersih 50-80kg dan dijahit menyilang pada ujung karungnya atau dikapal kan secara “bulk”.

b)  Pemberian merek: nama barang jenis mutu, identitas penjual, produce of Indonesia,  berat bersih, nomor karung, identitas pembeli, pelabuhan/negara tujuan.


Sumber

https://habibiezone.wordpress.com/2010/04/10/pasca-panen-dan-standar-produksi-kelapa-sawit/

Pemanenan Kelapa Sawit


Sistem panen

Standar panen yang digunakan antara satu perusahaan dan perusahaan lain kemungkinan berbeda. Tandan buah matang harus mempuyai pagar 1 brondolan di piringan sebagai tanda buah tersebut siap di panen Pelepah yang dipotong dan disusun rapi pada gawangan mati

Rotasi panen di pertahankan pada interval 7-10 hari TBS dan brondolan sudah disusun rapi di TPH (tempat pemungutan hasil) untuk pengangkutan ke pabrik Tangkai buah dipotong dan seluruh kotoran tandan (tbs) di bersihkan sebelum pengangkutan Tingkat ekstraksi minyak> 22% dan kandungan ABL Tingkat ekstraksi minyak> 22% dan kandungan ABL <2%



PEMANENAN PERSIAPAN

  1. Persiapan Pemanenan

Pelaksanaan panen buah perlu memperhatikan: Kondisi areal, Penyediaan tenaga kerja pemotong buah, pembagian seksi potong buah, dan penyediaan alat alat kerja.

Seksi potong buah harus di susun sehingga rupa blok yang akan dipanen setiap hari akan terkonsentrasi (tidak terpencar-pencar), selain itu juga harus dihindari adanya potongan potongan ancak panen, agar satu seksi selesai pada satu hari.

Semua tenaga kerja panen harus tiba diancak panen sedini dan sepagi mungkin, untuk meningkatkan produktifitas dan out put tenaga kerja pemanen. Pemanen harus menjaga peralatannya dalam keadaan baik, dan tajam.

  1. Pemanen

Pemanen mencari buah yang masak, dan melihat buah yang brondol di tanah. Jika pengambilan buah tidak dapat dilakukan tanpa memotong pelepah yang dibawahnya, maka pelepah ini harus dipotong terlebih dahulu dan dirumpuk, di ini harus dipotong terlebih dahulu dan dirumpuk di gawangan. Potong buahnya, potong tangkai buah sependek mungkin.

Tunas yang dibuang harus seminimal mungkin dan seperlunya jika mungkin dengan mengikuti aturan dengan ketentuan meninggalkan 2 (dua) pelepah dibawah buah.

Pelepah yang ditunas harus disebar di gawangan, laporan untuk tidak menutup pasar pikul, piringan dan parit. Tidak ada buah masak yang tertinggal karena ini akan terlalu masak pada rotasi berikutnya. Ketika memotong pelepah pemanen harus memotong

rapat pada batang. Jangan memanen buah mentah karena akan mengakibatkan hilangnya minyak dan kernel. Semua brondolan harus dikutip, termasuk yang masuk ke ketiak pelepah kelapa.

 

Usahakan jangan terlalu banyak memindahkan buah hasil pemanenan karena akan mengakibatkan kenaikan FFA. Gagang tangkai buah harus pendek, karena gagang yang panjang akan mengganggu pengangkutan dan menyerap banyak minyak pada fase proses awal menyerap banyak minyak pada fase proses awal pengolahan. Keluarkan brondolan dari buah busuk, atau terlalu masak dan janjang kosongnya jangan di bawa ke pabrik.

Buah tidak tercampur pasir dan sampah terutama sewaktu mengutip brondolan, karena ini menyebabkan kerusakan pada mesin-mesin pabrik. Usahakan mencegah pengiriman buah ke pabrik.

Buah dengan bagian gagang dibawah, disusun 5 atau 10 baris, untuk memudahkan penghitungan dan pemeriksaan kematangan buah. Jika rotasi panen dapat dipertahankan akan mengurangi pengutipan brondolan.

 

  1. Kebutuhan Pemanen dan Pembrondol

Pada aktual jumlah pemanen dan pembrondol diperhitungkan 1: 1, pada periode produksi rendah (tanaman rendah) jumlah pembrondol bisa lebih sedikit dari jumlah pemanen. Pemanen dan pembrondol agar diupayakan sebagai karyawan (SKU). Kebutuhan

pemanen dihitung.

Untuk perencanaan jumlah pemanen pada areal baru yang belum diketahui produktivitas secara rata-rata, maka perkiraan perkiraan kebutuhan pemanen dihitung:

Areal datar yang di panen dengan dodos - 0,04 hk / ha. Areal gambut / bukit yang dipanen dengan dodos - 0,06 hk / ha

TATA LAKSANA PANEN / PRODUKSI

  1. Angka Kerapatan Panen

Manfaatnya: untuk membina kebutuhan tenaga pemanen yang menyediakan sarana transportasi. Pohon contoh: sebanyak 100 pohon per blok (16-25 ha). Diambil dari baris no .5,15,35,45 masing-masing sebanyak 20 pohon. Hitung tandan yang sudah bisa dipanen keesokan harinya, misalnya 24 tandan. Kerapatan panen (KP) = 24/100 = 0,24 atau 1: 4 artinya dari setiap 4 pohon akan dipanen 1 tandan matang. Bila berat rata-rata 1 tandan = 12 kg. Maka prakiraan panen: 0,24 x 2.240 x 12 kg = 6.451 kg

Bila kapasitas (PN = Prestasi Normal) 1 orang tenaga panen = 800 kg diperlukan 8 orang pemanen. Truk / kendaraan sesuaikan dengan produksi tersebut.

 

  1. Rotasi Panen

Rotasi adalah: waktu yg di butuhkan antara panen terahir dengan panen berikutnya pada tempat yg sama. Perkebunan kelapa sawit pada umumnya menggunakan rotasi panen 7 hari yaitu satu areal harus dimasuki oleh pemanen tiap 7 hari Rotari panen di anggap baik bila buah tidak terlalu Rotasi panen di anggap baik bila buah tidak terlalu matang, yaitu dengan menggunakan sistem 5/7 artinya dalam satu minggu ada 5 hari 2 hari untuk sisa pemeliharaan alat panen dan masing-masing ancak panen diulang 7 hari berikutnya. Rotasi panen di afdelling / kebun diatur dan tak terkalahkan dengan hari kerja pabrik yakni sebagai berikut: 6/7: 6 hari memanen dengan rotasi 7 hari (Senin -

Sabtu) (biasanya hanya pada waktu musim panen puncak 5/7: 5 hari memanen dengan rotasi 7 hari (Senin - Jumat)

 

  1. Kapveld

Kapveld yaitu luas areal panen harian, sebagai Contoh: (Untuk Senin-Kamis @ 170 ha atau 11 blok / hari sedangkan pada hari jumat panen hari pendek hanya 6 blok)

 

  1. Sistem panen

Untuk memudahkan pelaksanaan panen dan memastikan produktifitas panen yang tinggi mandor menentukan sistem ancak / petak. Satu ancak terdiri dari 2-4 baris tanaman yang tergantung pada kerapatan buah masak. Area panen harus di bagi menjadi 5- / 6 bagian tergantung dari berapa hari kerja. Sistem pengancakan terdiri dari 3 sistem yaitu: pengancakan terdiri dari 3 sistem yaitu: · ancak giring murni · ancak giring tetap · ancak tetap

a. Sistem ancak giring

Pada sistem ancak giring setiap pemanen melaksanakan panen pada ancak panen yang

ditentukan setiap hari panen oleh mandor panen bagian areal panen selalu berubah di sesuaikan dengan kerapatan panen dan kehadiran tenaga kerja pemanen. Pada sistem ini berlalu suatu ancak telah selesai dipanen pemanen pindah ke ancak berikutnya

ancak berikutnya bersafat tetap dan bersifat tidak tetap begitu dikenal dengan sistem ancak giring murni (tdk tetap) dan sistem giring tetap. Pada sistem ini pemanen secara bersama-sama memanen di I blok. Setelah selesai pindah ke blok lain. Satu orang

pemanen memanen tiap 2 baris (1 gawangan). Kemudian berpindah kebaris yang belum dipanen, dan seterusnya sampai selesai 1 blok dan pindah ke blok lain.

Sistem ancak giring murni cocok untuk areal tanaman (tanaman muda) jumlah pemanen yang cukup banyak per mandor memudahkan transportasi buah dan kemungkinan ancak tertinggal kecil. Kelemahan dari sistem ancak giring murni adalah kurang tanggung jawab

jawabnya pemanen terhadap kondisi ancak karena ancaknya selalu berubah dari waktu ke waktu sulit ancaknya selalu berubah dari waktu ke waktu sulit ditelusuri pemanen yang melakukan kesalahan, produkifitas pemanen rendah karena kehilangan waktu akibat pindah dari ancak 1 ke ancak lainnya. Sebagai perbaikan dari ancak giring murni ini di kembangkan sistem ancak giring tetap pada sistem ini pemanen pindah dari ancak 1 ke ancak lainnya dengan ancak yang tetap.

Cara berpindahnya:

Ancak giring orang tetap: pemanen pertama mengambil gawangan pertama pada berikutnya. Ancak giring orang tidak tetap: gawangan pertama pada berikutnya yang dikerjakan oleh siapa saja / pemanen yang terlebih dahulu selesai. Keuntungan sistem ancak giring: buah dapat segera diangkut ke pabrik dan kontrol oleh mandor lebih mudah. Secara skematis, sistem panen ancak giring dapat terlihat.

b. Sistem ancak panen tetap

Pada sistem ini pemanen melaksanakan panen pada areal yang sama dikerjakan secara rutin bertanggung jawab menyelesaikan ancak sesuai dengan tanggung jawab yang ditentukan telah setiap hari tanpa ada yang tertinggal, pemanen tidak bekerja maka mandor harus mencari pekerja, sistem ini cocok di terapkan pada areal yang tofografi terbuka / cocok di terapkan pada areal yang tofografi terbuka / curam dan dengan tanam yang berbeda. Pada sistem pemanen di beri ancak dengan luasan tertentu dan tidak berpindah-pindah hal tsbt membantu di perolehnya TBS dengan kematangan yang optimal, rendeman minyak yang di hasilkan tinggi namun kelemahan sistem ini buah lebih lambat keluar sehingga lambat pula sampai ke pabrik. Sebagai

contoh Blok A = 16 ha, ada 50 baris dipanen oleh 5 orang. Orang ke I memanen baris 1-10, orang ke II baris ke 11 - 20 dan seterusnya.

 

  1. Organisasi Panen

Persiapan kebutuhan tenaga Dasar Luasan = Luas areal yang dipanen / kemampuan

pemanen. Pelaksan ketentuan panen: pemanen diawasi oleh seorang mandor. Tiap mandor panenan 15-50 pemanen (luasan 50-60). Kebutuhan tenaga kerja

Pada aktual jumlah pemanen dan pembrondol yang dibutuhkan 1: 1 pada daerah tertentu pembrondol lebih sedikit. Pemanen dan pembromdol ini digunakan sebagai pegawai tetap perusahaan karena bila digunakan sebagai buruh tetap harian maka mandor akan sulit mendapatkan pemanen yang terampil dalam jumlah yang sesuai untuk pemanen suatu luasan areal tertentu, sehingga tandan yang tidak dapat terpanen pada waktu yang tepat tidak akan Dapat terpanen pada waktu yang tepat akn

menurun kualitasnya. Dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja pemanen berdasarkan berbagai faktor antara lain: topografi, jenis alat angkut yg di gunakan, umur pekerja, norma kerja, sistem panen dan faktor lainnya.

 

  1. Cara Panen
  • Pelepah yang menyangga (songgo) buah matang dipotong
  • Tandan matang dipotong tangkainya
  • Brondolan yang ada diketiak pelepah diambil / dikorek
  • Tandan dibawa ke jalan pikul, brondolan di piringan dikumpulkan
  • Pelepah disusun digawangan dan dipotong menjadi 3 bagian.
  • Setelah selesai pindah ke pohon berikutnya.

 

  1. Pengumpulan ke TPH (Tempat Pengumpulan Hasil)
  • Buah diangkut dengan goni / pikulan atau kereta sorong ke TPH setelah selesai memanen 2 jam
  • TPH 1: 6, 1 TPH tiap 6 gawangan
  • Tangkai tandan dipotong mepet atau bentuk huruf V (cangkem / mulut kodok)
  • Tandan disusun tiap 10 tandan (tandan kecil) atau 5 (bila tandan besar)
  • Nomor pemanen ditulis pada tangkai tandan

 

  1. Prestasi Panen

Kapasitas Panen / Basis Tugas / Prestasi Normal: Jumlah kg tandan yang harus dibutuhkan dalam 1 hari kerja oleh tiap-tiap pemanen Basis Borong / Basis Premi: Jumlah kg TBS dalam basis tugas yang tidak dapat preminya / hanya upah standar

Besaran panen dan basis borong ditentukan oleh umur tanaman, keadaan buah (kerapatan panen), topografi areal, semakin sulit pelaksanaan panen berdasarkan borongnya diturunkan.

Contoh basis borong (BB)

Keterangan: pada umur 3-4 tahun dengan produksi 8 ton TBS / ha / thn dan berat rata-rata tandan 4 kg per pemanen harus memanen 250/4 = 62 tandan tiap hari untuk mencapai nilai minimum / basis borong. Untuk hasil panen yang lebih dari 62 tandan maka tentang kelebihannya yang diberikan premi

Sumber

http://ptpn1.co.id/artikel/standar-panen-kelapa-sawit#:~:text=Langsa%2C%2021%2D11%2D2018,pabrik%20Kelapa%20Sawit%20(PKS).

 

 

 

 

 

Pemeliharaan Kelapa Sawit

Pemeliharaan tanaman pada komoditas perkebunan yang bersifat tahunan, biasanya dikelompokkan ke dalam tanaman belum menghasilkan/immature atau disingkat (TBM) dan tanaman menghasilkan/mature disingkat (TM). TBM pada kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai dari saat tanam sampai panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan. Periode waktu TBM pada tanaman kelapa sawit terdiri dari :

TBM 0 :  menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik pancang.
TBM 1 :  tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)
TBM 2 :  tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)
TBM 3 :  tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)
Tujuan pemeliharaan TBM adalah untuk mendapatkan tanaman yang sama dalam hal pertumbuhannya, produktif dan berproduksi tinggi. Manfaat pemeliharaan TBM mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif tanaman sawit sebagai penujang pertumbuhan generatif yang berproduksi tinggi.
Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, sejak bibit sawit selesai ditanam di lahan sampai  tanaman mulai pertama kali berbunga yaitu:
1.        Konsolidasi
Konsolidasi adalah pemeriksaan situasi blok demi blok yang sudah ditanam untuk melihat kekurangannya, kemudian memperbaikinya dengan cara menegakkan tanaman dan memadatkan tanah serta pelepah kering diputus atau dipotong. Sekaligus dilakukan inventarisasi tanaman dan permasalahan lainnya. Bibit yang mati, abnormal, tumbang, terserang berat hama atau penyakit harus disisip, teras yang rusak diperbaiki dan lain – lain. Konsolidasi dilakukan pada saat TBM 1.
Konsolidasi Tanaman Kelapa Sawit


2.        Sensus Pokok Kelapa Sawit
Sensus terhadap pokok kelapa sawit perlu dilakukan untuk keperluan penyisipan/penggantian tanaman yang rusak/mati/terkena hama penyakit. Sensus dilakukan blok demi blok dengan cara jalur per jalur dan petugas sensus memberikan tanda pada setiap jalur dengan pancang yang diikat tali plastik sejumlah bibit yang akan disisip.

3.        Penyisipan / Penyulaman
Tanaman yang mati, rusak berat, sakit dan abnormal perlu disisipi dengan segera. Penyisipan  adalah mengganti tanaman yang tidak normal dalam perkembangannya dengan tanaman yang baru. Makin cepat disisipi makin baik agar pertumbuhannya tidak ketinggalan dan sebaiknya digunakan bibit yang telah khusus disiapkan untuk sisipan. Makin lama dilakukan penyisipan maka biaya investasi akan meningkat karena pemeliharaan akan lebih lama. Penyisipan hanya dilakukan pada TBM 1 dan awal mula pada TBM 2 dan tidak dianjurkan untuk TBM 3. Bibit abnormal akan baru terlihat setelah 6 – 12 bulan ditanam dan harus diganti demikian pula dengan tanaman yang terserang landak, babi dan gajah.
Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3 – 6 bulan setelah tanam, sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu penyisipan tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun selama 18 bulan sejak tanam. Cara penyisipan tanaman yaitu  tanaman yang mati  dicabut dan ditempatkan dalam gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan dengan diawali pembuatan titik tanam. Penanaman dilakukan dengan mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit yang lebih besar (umur  ≥ 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan pelepah bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak 1,5 kali dosis pupuk  per lubangdari pada penanaman awal. Selanjutnya diperlakukan sama seperti pada tanaman lain di sekitarnya.

4.        Memelihara LCC
LCC (Legume Cover Crop) walaupun sebenarnya saya lebih setuju menyebutnya LCP (Legium Cover Plant) karena karena Crop adalah kata yang berarti tanaman yang menghasilkan buah sementara kacangan dan sejenisnya hanya tanaman penutup saja (Plant). LCC/LCP merupakan tanaman penutup tanah dalam perkebunan kelapa sawit, pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, menambah unsur N, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.Untuk mendapatkan LCC yang murni diperlukan perawatan intensif selama enam bulan pertama. Dilapangan yang penulis temukan bahwa semua LCC yang digunakan di unit usaha rejosari adalah jenis mucuna, dengan sifatnya yang dapat tumbuh dengan cepat, dalam 1 hari mucuna mampu bertambah panjang 20 – 30 cm dengan masa hidup 2 tahun. Jenis – jenis LCC yang biasa digunakan pada perkebunan kelapa sawit diantaranya :
-    Centrosema pubescens
-    Pueraria javanica
-    Calopoginium mucunoides

5.        Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis, dan Gawangan
Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu, piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit.  Karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma. Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:
·           Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air,dan sinar matahari.
·           Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan.
·           Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan secara manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul. Budi, (2009) menjelaskan bahwa pelaksanaan pemeliharaan piringan dan gawangan, harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: 
P 0 = menyingkirkan semua gulma, kacangan bersih dari gulma (kacangan 100%) umur 0-6 bulan, rotasi 2 minggu.
P 1 = kacangan 85%, rumput lunak 15%, umur 7-12 bulan, rotasi 3 minggu
P 2 = kacangan 70%, rumput lunak 30%, umur 12- 18 bulan, rotasi 3 minggu
P 3 = kacangan bercampur dengan rumput lunak, bebas dari lalang dan anakan kayu, umur > 18 bulan rotasi 4 minggu.

Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan dengan cara:
·           Piringan bebas dari gulma  sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau maksimal 180 cm dari pohon
·           Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan rintis dibuat dengan perbandingan 1:2  dengan lebar 1,2 m
·           Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan.
·           Pekerjaan penyiangan (P) atau weeding (W) pada TBM dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
TBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput gulma lain dibersihkan semuannya. Dan
TBM 2 : W1 seperti pada TBM 1
TBM 3 : W3 yaitu 70% kacangan + 30% gulma lunak; bebas  lalang. Gulma yang diberantas adalah jenis gulma jahat yakni; lalang, mikania, pahitan, pakis, teki. Gulma kacangan yang merambat ke pohon diturunkan. Gulma lunak yang tidak perlu diberantas adalah jenis wedusan, sintrong.



Pengendalian gulma pada tanaman kelapa meliputi beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk menangani pertumbuhan gulma pada areal perkebunan. Meliputi kegiatan wiping dan weeding.
Wiping. Wiping adalah mengusap daun dengan larutan herbisida. Wiping merupakan pengendalian gulma yang dilakukan pada gulma alang-alang.
Weeding. Weeding adalah pengendalian gulma dalam area kebun kelapa sawit baik dalam gawangan maupun piringan dengan cara penyiangan. Penyiangan dalam gawangan meliputi gulma yang berada diantara tanaman penutup tanah (LCC) sehingga dilakukan secara mekanik. Pelaksanaannya memiliki rotasi 16 kali dalam setahun pada TBM I. Sedangkan pada TBM II dan TBM III rotasi wiping 12 kali dalam setahun. Penyiangan pada piringan memiliki rotasi 12 kali pada TBM I dan 10 kali pada TBM II dan TBM III. Piringan adalah daerah disekitar pokok tanaman sawit yang berbentuk lingkaran berdiameter 2-3 m, diameter piringan tergantung pada umur TBM, TBM I : 2 m, TBM II : 2,5 m, TBM III : 3 m. Penyiangan atau pemberantasan tumbuhan liar pada area piringan dilakukan secara manual dan kimia.
a.  Penyiangan manual
Penyiangan manual dilakukan dengan cara menggaruk tumbuhan dalam diameter piringan dengan cangkul. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah terjadinya cekungan yang dapat menampung air dan berakibat rusaknya tanaman. Untuk menghindari hal itu, penggarukan dilakukan dari arah luar lingkaran ke dalam (tanaman).
b.  Penyiangan kimia
Penyiangan kimia dapat dilakukan pada TBM III dengan rotasi 6 kali setahun dengan jenis herbisida sesuai dengan tumbuhan yang akan diberantas.

6.        Titi Panen dan TPH
Titi panen merupakan pembuatan jembatan pada setiap jalan rintis yang melewati parit atau saluran air, sehingga jalan rintis dapat dilalui tanpa hambatan.Tujuan titi panen adalah mempermudah pekerja panen dalam mengambil/mengangkut buah sawit. Titi panen harus segera dibuat setelah jalan rintis tersedia. Pemasangan titi panen dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
·         TBM 1 dipasang titi panen pada rintis = 25%
·         TBM 2 dipasang titi panen pada rintis = 25%
·         TBM 3 dipasang titi panen pada rintis = 50%
Titi panen dapat dibuat dari kayu atau beton. Penggantian titi panen berbahan kayu ke  bahan beton sebaiknya sudah dimulai pada TBM 3 dan telah selesai pada awal TM. Jumlah titi panen tergantung dari jumlah parit dan saluran air. Untuk menentukan jumlah dan panjang titi panen harus didasarkan data sensus yang akurat. Ukuran lebar titi panen tegantung pada kebutuhan dan harus dapat dilalui angkong dengan lebar titi panen sekitar 20 cm.
·  TPH merupakan tempat pengumpulan hasil panen kelapa sawit. TPH harus dibuat /dipersiapkan sejak 3-6 bulan sebelum panen.  Caranya yaitu memiilih tempat yang datar kemudian membersihkan penutup tanah/rumput dengan menggunakan cangkul. Ukuran TPH adalah 2 meter x 2 meter. Jarak antara TPH satu dengan TPH yang lain adalah sekitar 50 meter (tiap 6 gawangan) dengan lebar titi panen sekitar 20 cm. 

7.        Pemupukan
Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) dilakukan oleh Mandor besar (Mandor 1), Mandor pemupukan dan krani afdeling dengan berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan RAB berdsarkan rekomendasi dai tim riset. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM) meliputi:
·      Blok tanaman yang akan dipupuk
·      Jumlah kebutuhan pupuk per blok
·      Permintaan kendaraan
·      Tempat pengeceran pupuk
·      Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit didasarkan pada prinsip 4 T yaitu (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat metode). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman,  hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah, hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman.




8.        Tunas Pasir dan Kastrasi
Tunas Pasir/Pruning Sanitasi
Sebelum areal/blok masuk dalam kategori TM tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan tunas apapun karena pada waktu tersebut jumlah pelepah belum optimum. Sehingga pelepah produktif tidak boleh dibuang. Prinsip tunas pasir adalah hanya membuang pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering artinya ini hanya untuk keperluan sanitasi/kebersihan pokok sekitar sawit.
Pekerjaan tunas pasir dilakukan dengan cara membuang pelepah satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering. Dilakukan 6 bulan sebelum TM. Pelepah kering dipotong memakai dodos. Pelepah dipotong rapat ke pangkal dengan memakai dodos kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan disusun di gawangan mati. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras memotong/memangkas pelepah untuk tujuan apa pun, kecuali untuk analisis daun, ini pun hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja.
Kastrasi/ Ablasi
Kastrasi atau disebut juga ablasi merupakan pekerjaan penting pada kelapa sawit sebelum tanaman beralih dari TBM ke TM. Karena itu, sebelum melakukan kastrasi terlebih dahulu dilakukan monitoring pembungaan. Caranya yaitu mencatat pohon-pohon yang telah berbunga. Hasil catatan tersebut kemudian digambarkan pada peta sensus.
Tanaman kelapa sawit mulai mengeluarkan bunga setelah berumur 9 bulan, tergantung pertumbuhannya. Pada saat tersebut, bunga yang dihasilkan masih belum membentuk buah sempurna sampai tanaman berumur sekitar 24 bulan sehingga tidak ekonomis untuk diolah. Oleh sebab itu, semua bunga maupun buah yang keluar sampai dengan umur 24 bulan perlu dibuang atau diablasi.
Ablasi merupakan aktivitas membuang semua produk generatif, yaitu bunga jantan, betina, dan seluruh buah (yang terlanjur jadi) guna mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit. Pelaksanaan ablasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum pokok dipanen. Tujuan utama dilakukannya ablasi adalah mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak ekonomis ke pertumbuhan vegetatif sehingga pokok sawit yang telah diablasi akan lebih kuat dan pertumbuhannya seragam. Dengan demikian, pertumbuhan buah akan lebih besar dan seragam, serta menghambat perkembangan hama dan penyakit.
Ablasi biasanya dilakukan pada umur 18 bulan sejak tanam di lapangan sampai dengan 24 bulan. Setelah itu, bunga betina yang keluar dibiarkan sehingga tanaman sudah dapat dipanen pada umur 30 bulan. Ablasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 50% pokok kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga jantan dan atau betina. Umumnya, ablasi mulai dilakukan saat tanaman berumur 18 bulan di lapangan. Pelaksanaan ablasi dilakukan setiap dua bulan sekali sampai tanaman berumur 24 bulan.

9.        Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama utama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) dan Oryctes rhinoceros yaitu hama penggerek pucuk (titik tumbuh) kelapa sawit. Pengendaliannya dilakukan secara manual, kimia dan hayati
Penyakit yang banyak ditemui pada TBM adalah
o  Penyakit tajuk yang disebabkan faktor genetis dengan ciri-ciri adanya pembusukan berwarna coklat yang menyebar melalui bagian tengah dan menyebabkan anak daun terputus-putus.
o  Penyakit busuk tandan yang disebabkan pathogen marasmius palmivorus. Ditandai dengan adanya miselia cendawan berwarna putih pada kulit buah dan tandan. Faktor yang mendorong timbulnya penyakit ini adalah kebersihan kebun, piringan pohon sempit/kecil, penunasan terlambat, defisiensi hara dan tingginya curah hujan.
o  Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Penularan penyakit melalui pertautan antara akar sehat dan akar sakit, atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Gejala awal terlihat pada daun TBM mengalami clorosis yang berlanjut mengeringnya anak daun dan pelepah, serta terjadinya pembusukan pada jeringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian hayati untuk Ganoderma dilakukan dengan pemberian Trichoderma spp.

sumber
http://jacq-planter.blogspot.com/2014/08/kegiatan-perawatan-pada-masa-tanaman.html