Tampilkan postingan dengan label Aksi Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi Nyata. Tampilkan semua postingan

2024-09-27

3.3.a.9. Aksi Nyata - Modul 3.3

 

Tujuan Pembelajaran Khusus:  

  1. CGP dapat menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) & A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual dalam sebuah aksi nyata. 
  2. CGP membuat dokumentasi pelaksanaan tahapan yang telah dijalankan tersebut.

Pertanyaan Pemantik:

Bagaimana saya dapat menerapkan rancangan program yang telah saya buat ke dalam bentuk aksi nyata? Langkah-langkah apa yang bisa saya lakukan?

Selamat Ibu/Bapak sekalian! 

Ibu/Bapak telah sampai pada tahapan pembelajaran yang terakhir dari modul ini, yang sekaligus merupakan tahapan terakhir dari keseluruhan rangkaian modul Program Guru Penggerak. Kami yakin, cara pandang baru, pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang telah Ibu/Bapak kembangkan dalam proses belajar selama ini, telah memberi bekal yang cukup untuk memulai aksi perubahan dalam praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan sehari-hari oleh Ibu/Bapak.  Kami hanya ingin mengingatkan kembali bahwa, perubahan tidak harus dimulai dari hal yang besar. Kita dapat memulainya melalui langkah-langkah kecil yang dapat kita lakukan dalam lingkungan yang secara langsung dapat kita pengaruhi terlebih dahulu. Lewat perubahan-perubahan kecil yang Ibu/Bapak buat, kami yakin dampak positif akan dapat dirasakan oleh komunitas belajar di sekolah Ibu/Bapak, yang kemudian mampu menginspirasi lingkungan yang lebih luas.

Di dalam tahapan terakhir ini, Ibu/Bapak akan mulai mewujudkan perubahan kecil tersebut dengan mencoba menerapkan tahapan B dan A dari model prakarsa perubahan  BAGJA  yang telah Ibu/Bapak buat sebelumnya. Mengapa di tahapan aksi nyata ini Ibu/Bapak hanya akan melakukan tahapan B dan A? Hal ini karena tahapan selanjutnya dari proses BAGJA  ini (tahapan GJA) akan diimplementasikan selanjutnya bersamaan dengan saat Ibu/Bapak melakukan kegiatan lokakarya.




2024-09-17

3.2.a.9. Aksi Nyata - Modul 3.2


Tujuan Pembelajaran Khusus:  CGP mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah.

Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Bapak/Ibu CGP mengidentifikasikan sumber daya sebagai aset/kekuatan yang dimiliki sekolah. Identifikasi sumber daya sekolah dilakukan secara kolaboratif  agar semua warga sekolah dapat bersama-sama mengetahui dan memanfaatkannya untuk peningkatan kualitas pendidikan. Hasil dan proses pemetaan secara kolaboratif dapat dilaporkan dalam bentuk yang sesuai dengan kreativitas CGP, misalnya berupa foto atau video, dan lainnya. Dokumentasi dari proses ini akan dinilai pada kunjungan pendampingan individu ke-6. 

Hasil identifikasi pemetaan aset sekolah juga akan digunakan kembali saat Anda memasuki sesi demonstrasi kontekstual dalam modul 3.3.

Hasil tugas Julianthie Mandasari
https://drive.google.com/file/d/1AqwfbDa55ylmCfV1f4XNFof0kegfPNfR/view?usp=sharing

2024-08-31

3.1.a.9. Aksi Nyata - Modul 3.1

Tujuan Pembelajaran Khusus : CGP dapat mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP.

Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Bapak/Ibu CGP akan mendapat kesempatan untuk mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP. CGP akan mencari kasus nyata yang mengandung unsur dilema etika dengan melakukan wawancara dengan pimpinan (kepala sekolah) kemudian membuat tulisan berupa rangkuman, kesimpulan, refleksi yang menunjukkan pengetahuan dan pengalaman CGP.

Anda tidak ditugaskan untuk melaporkan implementasinya melalui LMS. Anda akan berkesempatan untuk mendiskusikan pengalaman dan refleksi dari aksi nyata ini bersama pendamping pada saat  pendampingan individu kelima.

Di samping itu, Anda juga diharapkan dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan yang didapat selama mempelajari modul ini melalui berbagai media, termasuk situs portofolio digital Anda, agar jiwa dari pengambilan keputusan sebagai pemimpin bisa semakin kuat, dikenal, dipahami, serta dipraktikkan di Indonesia.

Hasil Tugas Julianthie Mandasari

Rangkuman

Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan memberikan wawasan yang mendalam mengenai bagaimana seorang pemimpin dapat menggunakan prinsip-prinsip kebajikan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan. Modul ini menekankan pentingnya integritas, keadilan, dan kebijaksanaan dalam membuat keputusan yang tidak hanya mematuhi standar etika, tetapi juga mendukung kesejahteraan semua pihak yang terlibat. Modul ini menguraikan konsep utama, termasuk empat paradigma dalam pengambilan keputusan, tiga prinsip utama, dan sembilan langkah untuk menguji keputusan yang dibuat. Dengan menerapkan nilai-nilai kebajikan ini, pemimpin diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif dan kondusif, serta mampu menghadapi dilema etika dengan lebih bijak.

Kesimpulan

Pengambilan keputusan yang berdasarkan nilai-nilai kebajikan mengharuskan pemimpin untuk mempertimbangkan dengan matang aspek keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab. Dalam prosesnya, pemimpin harus menyelaraskan nilai-nilai pribadi dengan prinsip-prinsip etika universal guna mencapai keputusan yang adil dan bijaksana. Pengalaman belajar dari modul ini menunjukkan bahwa kualitas keputusan tidak hanya diukur dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Penerapan prinsip-prinsip kebajikan serta pengujian keputusan secara sistematis membantu pemimpin untuk menghadapi dilema etika dengan lebih percaya diri dan efektif.

Refleksi

Setelah mempelajari modul ini, pemahaman saya tentang pentingnya prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai kebajikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan semakin kuat. Proses pengambilan keputusan tidak hanya menuntut pertimbangan praktis, tetapi juga penilaian moral yang mendalam. Dengan memahami empat paradigma, tiga prinsip utama, dan sembilan langkah pengujian keputusan, saya merasa lebih siap untuk membuat keputusan yang adil dan berkelanjutan. Hal ini juga menekankan pentingnya integritas, empati, dan keadilan dalam setiap keputusan, terutama dalam konteks kepemimpinan di dunia pendidikan.

 

AKSI PRAKTIK:

Praktik Pengambilan Keputusan, Paradigma, Prinsip, dan Pengujian Keputusan

BENTUK KASUS: Dilema Seorang Pengawas ujian (wali kelas) Antara Pemberian Sanksi dan Pembinaan

Saya pernah mengalami situasi di mana salah satu siswa saya kedapatan membawa perangkat elektronik yang dilarang saat ujian oleh petugas pengawas.

Siswa ini dikenal sangat pintar, tetapi sering kali kesulitan mengatur waktu karena terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan pekerjaan paruh waktu. Sebagai wali kelas, saya menghadapi dilema: (1) Menjatuhkan sanksi sesuai aturan sekolah, yang mungkin berdampak negatif pada nilai dan reputasi siswa tersebut, atau (2) Memberikan kesempatan untuk pembinaan dengan pendekatan yang lebih mendukung, seperti konseling dan ujian ulang, namun dengan risiko dianggap tidak adil oleh siswa lain.

 

Paradigma yang Digunakan:

Keadilan VS Kasihan (Justice VS Mercy)

Keadilan: Menjatuhkan sanksi sesuai dengan aturan sekolah, yang menekankan pada konsistensi dalam penerapan peraturan.

Kasihan: Memberikan kesempatan pembinaan dengan pendekatan yang lebih mendukung, seperti konseling dan ujian ulang, yang menekankan pemahaman terhadap kondisi khusus siswa dan memberikan peluang untuk memperbaiki diri.

Prinsip yang Mendasari:

Pemikiran Berbasis Kepedulian (Care-Based Thinking)

Keputusan untuk memberikan kesempatan pembinaan didasarkan pada empati dan pemahaman terhadap situasi pribadi siswa. Pendekatan ini mempertimbangkan bagaimana saya ingin diperlakukan jika berada dalam situasi yang serupa.

 

9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan

Nilai-nilai yang Saling Bertentangan:

Keadilan dan Disiplin (mengikuti peraturan sekolah) VS Empati dan Dukungan (membantu siswa yang kesulitan).

Siapa yang Terlibat:

Siswa, Saya sebagai wali kelas, guru pengawas ujian, siswa lain, dan orang tua siswa.

Fakta-fakta yang Relevan: 

Siswa kedapatan membawa perangkat elektronik saat ujian.

Siswa tersebut cerdas tetapi kesulitan mengatur waktu karena keterlibatan dalam kegiatan lain.

Peraturan sekolah mengharuskan sanksi tegas untuk pelanggaran semacam ini.

Memberikan kesempatan pembinaan bisa dianggap tidak adil oleh siswa lain.

Pengujian Benar atau Salah:

 Uji Legal: Tidak ada pelanggaran hukum, namun peraturan sekolah mengharuskan sanksi tegas.

Uji Regulasi: Mengikuti peraturan sekolah berarti memberikan sanksi, tetapi pembinaan juga bisa melanggar aturan.

Uji Intuisi: Memberikan kesempatan pembinaan lebih bermanfaat bagi perkembangan siswa.

Uji Publikasi: Jika keputusan untuk memberikan pembinaan dipublikasikan, saya mungkin merasa tidak nyaman karena bisa dianggap tidak adil oleh siswa lain.

Uji Panutan: Panutan saya mungkin akan mencari solusi yang mendukung perkembangan mental siswa tanpa mengabaikan keadilan dan disiplin.

Pengujian Paradigma Benar Lawan Benar:

Paradigma yang sesuai adalah Keadilan VS Kasihan (Justice VS Mercy).

Prinsip Resolusi/Penyelesaian:

Prinsip yang digunakan adalah Pemikiran Berbasis Kepedulian (Care-Based Thinking), karena ini melibatkan empati dan memperlakukan siswa seperti yang saya harapkan diperlakukan.

Investigasi Opsi Trilemma:

Saya mencari solusi kompromi dengan memberikan siswa tersebut kesempatan untuk memperbaiki kesalahan melalui konseling dan ujian ulang, sambil menjelaskan situasi kepada siswa lain untuk menghindari kesalahpahaman.

Buat Keputusan:

Memberikan siswa tersebut kesempatan pembinaan dengan konseling dan ujian ulang, sambil memberikan penjelasan terbuka kepada kelas tentang alasan di balik keputusan ini untuk menjaga transparansi dan keadilan.

Lihat Lagi Keputusan dan Refleksikan:

Berdasarkan keputusan yang diambil, hal ini memungkinkan saya untuk membantu siswa tersebut tanpa mengabaikan nilai keadilan dan disiplin. Keputusan ini juga membantu saya menjadi lebih empatik dan pengertian dalam menangani masalah serupa di masa depan, serta menjaga kepercayaan dan transparansi dengan siswa lain.

Evaluasi Ketepatan Tahapan Pengambilan dan Pengujian Keputusan:

Langkah-langkah pengambilan keputusan yang diikuti sudah tepat, karena melibatkan identifikasi nilai-nilai yang bertentangan, pihak yang terlibat, pengumpulan fakta, dan berbagai pengujian untuk memastikan keputusan yang diambil adalah etis dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Pertanyaan Lanjutan:

Tidak ada pertanyaan lanjutan karena keputusan yang diambil sudah tepat.

 Evaluasi Ketepatan Keputusan yang Diambil:

Keputusan yang diambil sudah tepat, yaitu memilih memberikan kesempatan pembinaan dengan pendekatan yang lebih mendukung, seperti konseling dan ujian ulang, dengan tetap berkomunikasi secara transparan dengan siswa lain mengenai alasan di balik keputusan ini, sehingga mereka memahami konteks dan tidak merasa diperlakukan tidak adil.


2024-08-30

2.3.a.9. Aksi Nyata - Modul 2.3

 


Tujuan Pembelajaran Khusus:  CGP mempraktikkan  rangkaian supervisi akademik dalam pembelajaran dengan menggunakan paradigma berpikir coaching dan melakukan refleksi terhadap praktik supervisi akademik tersebut. Supervisi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

Percakapan pra coaching, pengamatan kelas, percakapan pasca coaching. Dengan tahapan tersebut terbukti dapat memperkuat kualitas pembelajaran di kelas. kegiatan supervisi akademik dilakukan kepada rekan guru sejarah saat mengajar di kelas X APHP. Berikut link video yang sudah diunggah pada kanal youtube.

PRA OBSERVASI


OBSERVASI

PASCA OBSERVASI



2024-07-20

2.2.a.9. Aksi Nyata - Modul 2.2


Selamat Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak! 

Akhirnya Anda telah tiba di sesi pembelajaran terakhir dari Modul Pembelajaran  Kompetensi Sosial dan Emosional. Aksi Nyata dalam modul ini mensyaratkan Anda untuk membagikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran sosial emosional yang  telah Anda lakukan selama ini.  Silahkan lihat kembali proses implementasi yang sudah Anda lakukan. 

Setelah Anda membagikan implementasi Anda kepada rekan sejawat atau komunitas Anda, refleksikan pengalaman tersebut dengan menggunakan  kerangka 4P (Peristiwa - Perasaan - Pembelajaran - Penerapan). Refleksi ini dapat diunggah ke situs portofolio digital Anda. 

Berikut adalah pertanyaan panduan yang dapat Bapak/Ibu gunakan: 

  1. Apa yang  Bapak/Ibu lihat dalam proses tersebut?  (Peristiwa)
  2. Apa yang Bapak/Ibu rasakan sehubungan dengan proses yang Anda alami? (Perasaan)
  3. Apa  hal yang bermanfaat dari proses tersebut? (Pembelajaran)
  4. Apa umpan balik yang Anda dapatkan? (Pembelajaran)
  5. Apa yang ingin Anda perbaiki atau tingkatkan agar ini berdampak lebih luas? (Penerapan)

Refleksi Implementasi Pembelajaran Sosial Emosional Menggunakan Kerangka 4P

Peristiwa

Dalam upaya mengimplementasikan pembelajaran sosial emosional, saya mulai dengan merancang kurikulum yang mencakup elemen-elemen penting seperti empati, pengelolaan emosi, dan keterampilan komunikasi. Untuk mengembangkan keterampilan ini, saya melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan seperti diskusi kelompok, permainan peran, dan proyek kolaboratif.

Selama proses pelaksanaan, saya menyaksikan peningkatan signifikan pada kemampuan siswa dalam mengenali dan mengelola emosi mereka, serta berinteraksi dengan lebih baik dengan teman-teman mereka. Siswa yang sebelumnya sering terlibat konflik mulai menunjukkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan lebih tenang dan bijaksana.

Perasaan

Saya merasa sangat terinspirasi dan termotivasi oleh perubahan positif yang saya lihat pada siswa. Ada rasa bangga melihat mereka tumbuh menjadi individu yang lebih empati dan mampu mengendalikan emosi mereka dengan lebih baik. Meski terkadang merasa kewalahan dengan tantangan yang muncul, terutama dalam menjaga konsistensi dan motivasi siswa, secara keseluruhan, pengalaman ini sangat memuaskan.

Pembelajaran

Proses ini memberikan banyak pembelajaran berharga bagi saya. Salah satunya adalah pentingnya memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri dan mendengarkan satu sama lain. Saya belajar bahwa dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, siswa lebih terbuka untuk belajar dan mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka.

Umpan balik dari siswa dan rekan sejawat sangat bermanfaat. Siswa merasa lebih dipahami dan lebih siap menghadapi tantangan sosial di sekolah. Rekan sejawat juga memberikan masukan konstruktif mengenai metode yang digunakan dan bagaimana pendekatan tersebut dapat disempurnakan.

Penerapan

Untuk meningkatkan dampak dari implementasi ini, saya berencana untuk memperbaiki beberapa aspek, seperti:

  1. Konsistensi dalam Pelaksanaan: Meningkatkan frekuensi dan intensitas kegiatan pembelajaran sosial emosional untuk memastikan siswa mendapatkan manfaat maksimal.
  2. Kolaborasi dengan Orang Tua: Melibatkan orang tua lebih dalam proses ini agar mereka dapat mendukung perkembangan sosial emosional anak di rumah.
  3. Evaluasi dan Penilaian Berkelanjutan: Mengembangkan alat evaluasi yang lebih baik untuk mengukur perkembangan siswa secara berkala dan memberikan umpan balik yang lebih tepat guna.

Dengan melakukan perbaikan ini, saya berharap dapat memberikan dampak yang lebih luas dan mendalam pada perkembangan sosial emosional siswa. Saya juga berencana untuk terus berbagi praktik terbaik ini dengan komunitas pendidikan yang lebih luas agar lebih banyak siswa dapat merasakan manfaat dari pendekatan ini.

2024-06-10

Calon Guru Penggerak Angkatan 10: Membangun Budaya Positif melalui Keyakinan Kelas di SMK Negeri 4 Sampit



Sampit, 22 Mei 2024 – Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 10 melaksanakan aksi nyata bertemakan "Budaya Positif" di Kelas X APHP SMK Negeri 4 Sampit. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, positif, dan kondusif melalui proses kolaboratif antara guru dan siswa dalam menetapkan aturan, norma, dan ekspektasi yang mengatur perilaku di kelas.

Proses Pembuatan Keyakinan Kelas

1. Pendahuluan dan Pengantar

a. Jelaskan Konsep Keyakinan Kelas:

Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai konsep keyakinan kelas dan pentingnya bagi lingkungan belajar yang sehat. Guru menjelaskan manfaat memiliki keyakinan kelas seperti menciptakan suasana yang aman dan mendukung.

b. Tetapkan Tujuan:

Guru menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk menciptakan aturan dan norma yang disepakati bersama, sehingga setiap siswa merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pembelajaran.

2. Diskusi 

a. Identifikasi Nilai dan Harapan:

Siswa diajak untuk berbagi nilai-nilai yang mereka anggap penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik. Nilai-nilai seperti saling menghormati, kerja sama, dan kejujuran menjadi sorotan utama dalam diskusi ini.

b. Diskusikan Situasi Nyata:

Siswa mendiskusikan contoh-contoh situasi nyata yang mungkin terjadi di kelas dan bagaimana seharusnya mereka bertindak dalam situasi tersebut. Ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan pendapat dan berbagi pengalaman mereka.

3. Penyusunan Keyakinan Kelas

a. Rangkuman dan Pengelompokan Ide:

Ide-ide yang telah dibahas kemudian dirangkum dan dikelompokkan menjadi beberapa kategori utama, seperti aturan tentang berbicara di kelas dan penggunaan teknologi.

b. Penulisan Draf Keyakinan:

Guru dan siswa bersama-sama menyusun ide-ide tersebut menjadi beberapa poin keyakinan kelas yang spesifik dan jelas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh semua siswa.

4. Persetujuan dan Komitmen

a. Revisi dan Finalisasi:

Draf keyakinan kelas direvisi berdasarkan masukan dari siswa. Setiap siswa diberi kesempatan untuk memberikan masukan dan perubahan dilakukan jika diperlukan.

b. Voting dan Persetujuan:

Dilakukan voting untuk mengesahkan keyakinan kelas, memastikan setiap siswa merasa suara mereka didengar dan dihargai.

c. Tanda Tangan dan Komitmen:

Setiap siswa dan guru menandatangani dokumen keyakinan kelas sebagai tanda komitmen. Dokumen ini kemudian ditempelkan di tempat yang terlihat jelas di kelas.

5. Implementasi dan Evaluasi

a. Sosialisasi dan Penerapan:

Dokumen keyakinan kelas ditempelkan di dinding kelas dan diingatkan secara rutin. Guru dan siswa mengingatkan satu sama lain untuk tetap mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.

Melalui kegiatan ini, siswa merasa memiliki andil dalam menciptakan lingkungan belajar mereka, yang meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepatuhan terhadap aturan yang telah disepakati bersama.

 

Diseminasi Aksi Nyata

Pada tanggal 6 Juni 2024, CGP Angkatan 10 di SMK Negeri 4 Sampit melakukan diseminasi penerapan budaya positif kepada rekan-rekan guru di sekolah tersebut. Diseminasi ini dibagi menjadi tiga sesi materi, salah satunya disampaikan oleh seorang CGP yang membahas “Motivasi Perilaku Manusia dan Kebutuhan Dasar Manusia”.

 Latar Belakang

Penerapan budaya positif di sekolah merupakan upaya peningkatan kualitas pendidikan nasional. Budaya positif tidak dapat diterapkan tanpa dukungan seluruh elemen sekolah. Dengan budaya positif, diharapkan visi sekolah dapat terwujud dan karakter murid terbentuk sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.

Tujuan

  • Menumbuhkan budaya positif dengan kesepakatan kelas.
  • Mengembangkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam diri murid.
  • Membiasakan murid mengimplementasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam kegiatan sehari-hari.

Tolak Ukur

  • Murid mampu membuat kesepakatan kelas yang dipasang di dinding kelas dan ditaati.
  • Peserta dapat mengaplikasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila secara sadar dan berkesinambungan.
  • Murid terlibat aktif dalam kegiatan sekolah, mengamalkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.

Lima Tindakan yang Dilakukan

  • Sosialisasi kepada seluruh warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru, murid, dan tenaga kependidikan terkait disiplin positif, kesepakatan kelas dan profil pelajar Pancasila dan praktik segitiga restitusi sebagai dampak pelanggaran kesepakatan kelas.
  • Guru menjelaskan tentang pengertian dan pentingnya kesepakatan kelas.
  • Guru memfasilitasi peserta didik untuk membuat kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang telah disepakati selanjutnya ditandatangani seluruh warga kelas dan dipasang di dinding kelas.
  • Menumbuhkan, menanamkan dan membiasakan nilai-nilai profil pelajar pancasila.
  • Mendokumentasikan setiap kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan, mencerminkan dan membiasakan nilai-nilai profil pelajar Pancasila.
  • Membagikan pemahaman dan pengalaman dalam menerapkannya budaya positif kepada rekan sejawat.

Dukungan yang Dibutuhkan

  • ·       Dukungan seluruh warga sekolah serta partisipasi orang tua di rumah.
  • ·       Dedikasi seluruh warga sekolah sebagai role model bagi peserta didik.
  • ·       Kolaborasi seluruh warga sekolah dalam menciptakan dan membiasakan budaya positif.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan budaya positif dapat diterapkan dengan baik di SMK Negeri 4 Sampit, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi seluruh siswa.

Berikut video aksi nyata yang di lakukan





2024-05-28

1.3.a.9. Aksi Nyata - Modul 1.3

 


Tujuan Pembelajaran: CGP mampu mengimplementasikan rencana manajemen perubahan yang telah dibuat.
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERDEKA kali ini akan mendapat tugas merevisi (karena mungkin visi Bapak/Ibu sudah menjadi makin kuat di tahap Koneksi Antarmateri) dan mengeksekusi rancangan BAGJA untuk prakarsa perubahan diri Bapak/Ibu yang sudah dibuat pada tahap Demonstrasi Kontekstual. Ingatlah bahwa penerapan Aksi Nyata ini bukan semata penugasan modul Program Pendidikan Guru Penggerak, melainkan sebuah praktik dalam pengembangan profesi berkelanjutan.



2024-04-12

1.2.a.9 Aksi Nyata - Modul 1.2



Di modul ini, Bapak/Ibu diajak untuk melaksanakan rencana yang telah dituliskan pada refleksi 4P di bagian Koneksi Antar Materi mengenai “pengembangan DIRI yang sederhana, konkret dan rutin serta dapat dilakukan sendiri dari sekarang”. Kumpulkan dalam bentuk dokumentasi dengan format video singkat atau kumpulan foto yang bercerita saat diri Bapak/Ibu menjalankan rencana. Jangan lupa sertakan refleksi sepanjang proses menjalankannya, seperti apa perasaan Bapak/Ibu, apa ide atau gagasan yang timbul, pembelajaran apa saja yang dapat diambil, dan apa dampak (perubahan positif) yang paling dirasakan oleh diri Bapak/Ibu.