2020-12-26

Pengairan Perkebunan Kelapa Sawit

Kekeringan dapat menurunkan hasil tanaman – penurunan turgor – penutupan stomata – luas daun – fotosinteis

Pertumbuhan berhenti bila Ψ = -20 barHujan/pengairan setelah kekeringan dapat memecahkan dormansiKapan dimulai dapat dideteksi dengan kertas kobal klorid dan alat lain.Kehilangan air pada pertanaman kelapa dan kelapa sawit 28,1 – 74 l/tanaman/hari
Jumlah air yang perlukan untuk mencapai kapasitas lapangan dapat didekati dengan evaporasi panci dikurangi dengan curah hujan setelah kapasitas lapangan.Pengairan dapat meningkatan hasil rata-rata 74% per tahun
Bila tidak memungkinkan dilakukan pengairan, usaha mempertahankan lengas dapat dilakukan dengan pemberian mulsa

  • Mulsa dapat berupa rumput, seresah atau bahan organik yang lainnya
  • Mulsa organik yang telah melapuk dapat menambah bahan organik dan hara, terutama dari familia leguminose (kacangan)
  • Mulsa organik yang banyak diterapkan pada pertanaman sawit muda adalah kacangan sementara pada sawit dewasa banyak digunakan Nephrolepis spp.

Pengairan harus memperhatikan hal-hal berikut :

  • Air yang digunakan tidak berasal dari sungai yang tercemar limbah
  • Air yang digunakan tidak berasal dari rawa karena air rawa memiliki derajad keasaman rendah dan mengandung asam organik tinggi sehingga dapat meracuni tanaman
  • Air yang digunakan harus sehat, tidak mengandung asam-asam, garam-garam, zat-zat beracun dll
  • Kualitas dan kesehatan air untuk penyiraman sebaiknya diuji laboratorium, terutama yang berasal dari sungai

 



 

 

sumber

https://slideplayer.info/slide/12508696/


Lokasi: Wonosari, Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar