2024-05-18

1.4.a.4.2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

 


Tujuan Pembelajaran

CGP dapat menjelaskan dan menganalisis Teori Motivasi dan Motivasi Intrinsik yang dituju, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.

CGP dapat menjelaskan konsep hukuman dan penghargaan, dan  konsep pendekatan restitusi.

CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri.

 

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:

Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman

Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal.

Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.

Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan. Motivasi ini juga bersifat eksternal.

Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

Sekarang, mari pikirkan tentang diri Anda sendiri. Anda sekarang mengikuti Program. Guru Penggerak, mengapa Anda mengikuti program ini? Apakah bila Anda tidak mengikuti program ini, akan ada hal yang menyakitkan yang akan terjadi pada Anda? Apakah ada hadiah atau penghargaan setelah Anda mengikuti program ini? Atau apakah Anda mengikuti program ini karena Anda ingin menjadi seorang guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini, misalnya menjadi seorang guru pemelajar? Apa dampak ketiga motivasi tersebut pada diri Anda sebagai calon guru penggerak? Yang mana motivasi yang paling akan berdampak jangka panjang dan membuat Anda terus bersemangat secara internal?

Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti program ini karena ingin mendapat penghargaan. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda akan berubah menjadi sebuah pemahaman untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, dampaknya pada diri Anda?

Pada tahap ini, saya merasa bahwa motivasi saya telah berubah menjadi sebuah pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya menjadi seorang guru dengan nilai-nilai yang saya yakini. Saya mulai melihat pendidikan sebagai alat untuk membentuk karakter, membangun masa depan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Hal ini membuat saya lebih termotivasi untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi sebagai seorang pendidik yang berdedikasi. Dampak dari perubahan motivasi ini pada diri saya adalah perubahan sikap dan perilaku. Saya mulai mengambil pendekatan yang lebih holistik terhadap pendidikan, fokus pada pembentukan karakter dan nilai-nilai positif, serta memprioritaskan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Hal ini juga memengaruhi cara saya berinteraksi dengan siswa, rekan kerja, dan komunitas sekolah secara keseluruhan.

Sebagai seorang guru, saat Anda hadir mengajar di kelas tepat waktu, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda? Apakah Anda datang tepat waktu karena tidak ingin ditegur oleh atasan Anda  dan kemudian mendapat surat peringatan (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman) atau Anda ingin mendapatkan pujian dari atasan Anda dan mendapat penghargaan sebagai karyawan atau guru berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau Anda ingin menjadi orang yang menghargai waktu, menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai guru akan dicontoh oleh murid-murid Anda (menghargai nilai-nilai diri sendiri). Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda? Atau bahkan kombinasi dari dua motivasi, atau bahkan ketiga-tiganya?

Pertama, ketakutan akan konsekuensi atau hukuman dari atasan atau sekolah mungkin menjadi faktor yang mempengaruhi. Tidak ingin mendapatkan teguran atau surat peringatan karena terlambat adalah suatu dorongan yang bisa mendorong kehadiran tepat waktu. Kedua, keinginan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari atasan atau rekan kerja juga bisa menjadi motivasi. Merasa diakui dan dihargai atas ketepatan waktu dan dedikasi dalam pekerjaan adalah hal yang dapat memotivasi seseorang untuk terus berusaha tampil maksimal. Ketiga, nilai-nilai diri sendiri dan kesadaran akan pentingnya menghargai waktu bisa menjadi motivasi intrinsik yang kuat. Sebagai seorang guru, saya mungkin merasa tanggung jawab untuk memberikan teladan yang baik bagi murid-murid saya, dan menghormati waktu adalah bagian dari nilai-nilai yang ingin saya tanamkan pada mereka. Kombinasi dari dua atau bahkan ketiga motivasi ini mungkin memengaruhi tindakan saya untuk hadir mengajar tepat waktu.

Bila di sekolah Anda tidak ada peraturan yang mengharuskan guru datang tepat waktu dan tidak ada surat teguran bagi guru yang datang terlambat, dan tidak ada atasan yang memuji Anda, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda?  Jelaskan alasan Anda.

Meskipun tidak ada peraturan yang mengharuskan atau mengatur tentang keterlambatan guru di sekolah saya, dan tidak ada surat teguran atau penghargaan yang ditetapkan terkait kehadiran tepat waktu, saya masih akan berusaha datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid saya. Alasannya adalah karena saya melihat keterlambatan sebagai sesuatu yang tidak hanya mempengaruhi saya sendiri, tetapi juga dapat berdampak negatif pada pengalaman belajar siswa.

Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi tadi, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan!

Motivasi untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. hal ini terjadi karena sering kali menjadi pendorong awal bagi perilaku siswa, terutama jika ada sistem penghargaan atau pengakuan yang diterapkan di sekolah. Siswa termotivasi untuk mencapai prestasi atau perilaku yang diinginkan karena mereka ingin mendapatkan penghargaan, pujian, atau pengakuan dari guru, teman sekelas, atau orang tua. Ini bisa berupa poin positif, sertifikat penghargaan, atau pujian langsung.

Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?

Untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid, saya telah menerapkan berbagai strategi, di antaranya: Konsistensi dalam Aturan: Saya memastikan bahwa aturan dan konsekuensi yang ditetapkan di kelas sangat jelas dan konsisten. Pemberian Contoh: Saya berusaha menjadi teladan bagi murid-murid dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang diinginkan.. Pembinaan Hubungan Positif: Saya menghabiskan waktu untuk membangun hubungan yang baik dengan setiap murid. Menggunakan Penguatan Positif: Saya aktif memberikan pujian dan pengakuan kepada murid-murid yang menunjukkan perilaku positif dan mematuhi aturan. Hasil dari penerapan strategi ini pada perilaku murid-murid saya telah beragam. Banyak murid menunjukkan peningkatan dalam ketaatan terhadap aturan, lebihnya keterlibatan dalam pembelajaran, dan pengembangan keterampilan sosial yang lebih baik.

Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda berusaha tanamkan pada murid-murid Anda di kelas dan sekolah Anda?

Saat saya mengajar, saya berusaha untuk menanamkan sejumlah nilai-nilai kebajikan pada murid-murid saya, yang saya anggap penting untuk pembentukan karakter mereka. Beberapa dari nilai-nilai kebajikan tersebut antara lain: menghormati, tulus, disiplin, Kerjasama, empati, ketekunan, kepedulian, toleransi dan kemandirian Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan ini, saya berharap dapat membantu murid-murid saya menjadi individu yang bertanggung jawab, berempati, dan bermoral tinggi, yang siap menghadapi tantangan dunia dengan sikap yang positif dan penuh integritas.

Iva kurang menguasai pelajaran Matematika, sehingga pada saat pelajaran tersebut berlangsung, dia lebih banyak berdiam diri atau menggambar di buku pelajarannya. Pada saat guru Matematikanya, Pak Seno, menanyakan pertanyaan Iva menjadi gugup, dan tak sengaja menjatuhkan tasnya dari kursi, serta tiba-tiba menjadi gagap pada saat berupaya menjawab. Seluruh kelas pun tertawa melihat perilaku Iva yang bicara tergagap dan terkejut tersebut. Pak Seno pada saat itu membiarkan teman-teman Iva menertawakan Iva yang tergagap dan malu luar biasa, dan malahan minta Iva untuk maju ke depan dan berdiri di depan kelas sambil menunjuk hidungnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Seno. Kelas makin gaduh, dan anak-anak pun tertawa melihat Iva di depan kelas memegang ujung hidungnya.

Jawablah kedua pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.

Apakah Anda setuju dengan tindakan pak Seno terhadap Iva? Mengapa?

Menurut Anda, tindakan Pak Seno terhadap Iva adalah sebuah hukuman atau konsekuensi? Mengapa?

1. Tindakan Pak Seno terhadap Iva adalah tidak pantas dan tidak mendukung perkembangan siswa. Meminta Iva untuk berdiri di depan kelas sambil menunjuk hidungnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan tidak hanya menghina dan mempermalukan Iva, tetapi juga merendahkan martabatnya di depan teman-temannya. Tindakan tersebut dapat berdampak negatif pada kepercayaan diri dan kesejahteraan emosional Iva.

2. Tindakan Pak Seno terhadap Iva dapat dikategorikan sebagai sebuah hukuman. Hukuman adalah tindakan yang diberikan sebagai akibat dari perilaku yang dianggap melanggar aturan atau norma tertentu. Dalam hal ini, Pak Seno memberikan hukuman berupa mempermalukan Iva di depan kelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Namun, penting untuk dicatat bahwa hukuman yang diberikan oleh Pak Seno terhadap Iva tidaklah sesuai dengan pendekatan pembinaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang pendidik.

 

Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Dalam modul ini akan diperkenalkan program disiplin positif yang dinamakan Restitusi. 

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Setelah membaca bagan tentang perbedaan Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi, maka isilah bagan di bawah ini, kira-kira bila seorang guru/orang tua melakukan tindakan yang dinyatakan di kolom sisi kiri, apakah tindakan tersebut berupa sebuah hukuman, konsekuensi?

·       Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, "Saya tidak akan terlambat lagi", adalah Hukuman

·       Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di sekolah adalah Hukuman

·       Membersihkan coretan yang dibuatnya di meja tulis adalah konsekuensi

·       Murid diminta untuk 'push up' 15 kali karena tidak menggunakan masker ke sekolah adalah Hukuman

·       Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret-coret adalah Konsekuensi

·       Berjemur di lapangan basket pukul 12:00 siang karena mengobrol dengan teman adalah hukuman

·       Murid diminta bertelanjang kaki sepanjang hari karena tidak menggunakan sepatu warna hitam sesuai peraturan sekolah.adalah hukuman

·       Berdiri di depan kelas sambil mengangkat kaki satu, karena tidak bisa menjawab pertanyaan adalah hukuman

·       Membersihkan tumpahan air di meja tulis karena tersenggol pada saat belajar.adalah konsekuensi

·       Kehilangan 10 menit jam istirahat untuk mengerjakan tugas, karena terlambat datang dan tertinggal pelajaran selama 10 menit.adalah konsekuensi.

·       Duduk di bangku di pinggir lapangan pada jam istirahat, tidak diizinkan bermain oleh guru piket, karena mencederai teman saat bermain di lapangan.adalah konsekuensi

·       Terlambat hadir di pembelajaran daring 15 menit, dan diminta untuk tinggal 15 menit sesudah kelas usai untuk membahas ketertinggalan pembelajaran. Adalah konsekuensi

·       Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat 10 menit untuk pelajaran PJOK.adalah konsekuensi.

·       Berjemur di lapangan basket pukul 12:00 siang karena mengobrol dengan teman adalah hukuman

·       Membersihkan WC sekolah karena mematahkan pensil kawannya.adalah hukuman

 

Ibu Anas guru kelas 2 SD, mendapatkan masalah. Murid-muridnya tidak bisa tertib berdiri antri di depan pintu kelas, dan selalu berebutan masuk ke dalam kelas setelah jam istirahat usai. Ini tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran dimana kelas tidak dapat mulai tepat waktu karena Ibu Anas sibuk menenangkan murid-muridnya untuk waktu cukup lama. Akhirnya Bu Anas berpikir cepat, dan mengandalkan stiker bintang. Setiap murid-muridnya akan masuk kelas usai jam istirahat, Bu Anas akan mengiming-imingi murid-muridnya dengan stiker bintang. “Siapa yang dapat berdiri lurus dan berbaris rapi antri di depan pintu, dapat bintang dari Bu Anas!” Sebagian besar murid-muridnya menyambut tantangan tersebut, dan langsung berdiri rapi di depan pintu agar mendapatkan stiker bintang. Hal ini terus dilakukan Bu Anas selama beberapa minggu, karena cukup berhasil membuat murid-muridnya berdiri rapi antri di depan pintu. Sampai pada suatu saat Bu Anas sakit, dan terpaksa digantikan Pak Heru. Pak Heru tidak mengetahui tentang stiker bintang, dan benar saja, pada saat mau masuk ke kelas usai jam istirahat murid-murid kelas 2 kembali berebutan masuk kelas. Apa yang terjadi, mengapa?

Jawablah ketiga pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.

Berdasarkan teori motivasi yang telah Anda pelajari pada pembelajaran sebelumnya, kira-kira apa motivasi murid-murid kelas 2 untuk bersedia berdiri antri sebelum masuk kelas?

Adakah cara lain agar murid-murid kelas 2 bersedia antri di depan kelas tanpa diberi penghargaan stiker bintang? Jelaskan.

1. Motivasinya adalah mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Mereka tertarik untuk berdiri rapi dan berbaris antri di depan pintu kelas karena dijanjikan stiker bintang sebagai imbalan.

2. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan membangun motivasi yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri individu. Guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang mendukung perilaku tertib tanpa harus tergantung pada hadiah. Misalnya, guru dapat memberikan penjelasan yang jelas tentang pentingnya antrian dan kedisiplinan dalam proses pembelajaran, serta memberikan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai seperti kerjasama, tanggung jawab, dan kesopanan.

 

“Saat kita berulang kali menjanjikan hadiah kepada anak-anak agar berperilaku bertanggung jawab, atau kepada seorang murid agar mempelajari sesuatu yang baru, atau kepada seorang karyawan agar melakukan pekerjaan yang berkualitas,kita sedang berasumsi mereka tidak dapat melakukannya,  atau mereka tidak akan memilih untuk melakukannya.”

(Alfie Kohn)

Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya.

Kohn selanjutnya  juga mengemukakan beberapa pernyataan dari hasil pengamatannya selama ini tentang tindakan memberikan penghargaan yang nilainya sama dengan menghukum seseorang.

 

Pilihlah dua kotak yang berisi pernyataan atau hasil penelitian yang paling menarik atau menantang untuk Anda. Tuliskan tanggapan Anda terhadap pernyataan/hasil penelitian yang Anda pilih tersebut, kemudian berilah minimal 2 tanggapan atas jawaban/tanggapan rekan Anda.

1. Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang point ke 2. Penggunaan penghargaan sebagai insentif dalam menggerakkan perilaku memerlukan perhatian khusus agar tidak berdampak negatif. Meskipun penghargaan bisa efektif, penggunaan berlebihan atau berulang dapat menyebabkan ketergantungan pada penghargaan tersebut. Seiring berjalannya waktu, individu mungkin kehilangan motivasi intrinsik mereka karena lebih fokus pada hadiah daripada pada kepuasan melakukan tugas atau mencapai tujuan. 2. Penghargaan Tidak efektif point ke 4, Hal menyoroti kompleksitas dalam memahami motivasi dan perilaku manusia. Kadang-kadang, memberikan penghargaan tidak selalu efektif dalam mengubah perilaku yang kompleks seperti kebiasaan merokok atau pola makan yang tidak sehat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam mengubah perilaku tersebut, termasuk motivasi intrinsik, dukungan sosial, dan kesiapan individu untuk berubah.

2024-05-16

1.4.a.4.1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal

Tujuan Pembelajaran Khusus

CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol.

CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia.

CGP menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.

 

psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.

Ilusi guru mengontrol murid. 

Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau  murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya  guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid  sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru  menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol  menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap  perilaku yang tidak disukai.

Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat. 

Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha  untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah  suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu,  kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk  menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.

Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat  menguatkan karakter.

Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada  identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka.  Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru  untuk mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan  negatif.

Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.

Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab  untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang  dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah  pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari  bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang,  dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.

agaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991)  mengatakan bahwa,

 

“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau  perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita  perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia,  bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema  pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.


Ketika mendengar kata “disiplin”, apa yang terbayang di benak Anda? Apa yang terlintas di pikiran Anda? Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan.  Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali.

Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.

Anda telah mengikuti serangkaian pembahasan tentang makna disiplin positif yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara maupun Diane Gossen, di mana kedua pakar pendidikan mengartikan disiplin sebagai bentuk kontrol diri, yaitu belajar untuk kontrol diri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia. Tujuan mulia di sini mengacu pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip mulia yang dianut seseorang. Kita namakan nilai-nilai tersebut sebagai nilai-nilai kebajikan (virtues) yang universal.

Nilai-nilai kebajikan universal sendiri telah diperkenalkan di modul 1.2 yang berarti nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya. Nilai-nilai ini merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. William Glasser pada Teori Kontrol (1984), menyatakan bahwa setiap perbuatan memiliki suatu tujuan, dan selanjutnya Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.

Profil Pelajar Pancasila

·       Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia.

·       Mandiri

·       Bernalar Kritis

·       Berkebinekaan Global

·       Bergotong royong

·       Kreatif

IBO Primary Years Program (PYP)

Sikap Murid:

·       Toleransi

·       Rasa Hormat

·       Integritas

·       Mandiri

·       Menghargai

·       Antusias

·       Empati

·       Keingintahuan

·       Kreativitas

·       Kerja sama

·       Percaya Diri

·       Komitmen

Sembilan Pilar Karakter (Indonesian Heritage Foundation/IHF)

·       Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA

·       Kemandirian dan Tanggung jawab

·       Kejujuran (Amanah), Diplomatis

·       Hormat dan Santun

·       Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong

·       Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras

·       Kepemimpinan dan Keadilan

·       Baik dan Rendah Hati

·       Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

 

Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup

Keterampilan Hidup

·       Dapat dipercaya

·       Lurus Hati

·       Pendengar yang Aktif

·       Tidak Merendahkan Orang Lain

·       Memberikan yang Terbaik dari Diri

Petunjuk Hidup

·       Peduli

·       Penalaran

·       Bekerja sama

·       Keberanian

·       Keingintahuan

·       Usaha

·       Keluwesan/Fleksibilitas

·       Berorganisasi

·       Kesabaran

·       Keteguhan hati

·       Kehormatan

·       Memiliki Rasa Humor

·       Berinisiatif

·       Integritas

·       Pemecahan Masalah

·       Sumber pengetahuan

·       Tanggung jawab

·       Persahabatan

The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence,...

·       Empati

·       Suara Hati

·       Kontrol Diri

·       Rasa Hormat

·       Kebaikan

·       Toleransi

·       Keadilan

The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)

Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti Program Guru Penggerak ini karena ingin mendapatkan suatu penghargaan tertentu. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda berubah menjadi sebuah keinginan untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, apa dampaknya untuk diri Anda? Apa yang Anda dapatkan, mengapa hal itu penting untuk Anda?

Saya mengalami hal serupa dalam Program Guru Penggerak, awalnya tertarik oleh penghargaan, tetapi kemudian berubah menjadi keinginan untuk menerapkan nilai-nilai yang saya yakini. Dampaknya signifikan, meningkatkan motivasi, kepuasan pribadi, dan rasa terhubung dengan tujuan dan nilai-nilai pribadi. Saya merasa bangga bisa berkontribusi pada perkembangan karakter siswa dan merasa ini sebagai panggilan hidup saya.

Sebagai seorang pendidik, saat Anda perlu hadir di suatu pelatihan, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda?

·       Apakah Anda hadir karena tidak ingin ditegur oleh pihak panitia atau pengawas Anda, dan mendapatkan surat teguran (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman), atau

·       Anda ingin dilihat dan dipuji oleh lingkungan Anda, atau mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau

·       Anda ingin menjadi pemelajar sepanjang hayat, menjadi orang yang berusaha dan bertanggung jawab serta menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda, guru-guru Anda, serta lingkungan Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai pemimpin pembelajaran akan jadi panutan oleh lingkungan Anda (menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri).

Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda, atau adakah suatu proses perubahan motivasi antara dua motivasi?

Sebagai seorang pendidik, motivasi saya dalam hadir di suatu pelatihan dapat bervariasi tergantung pada konteks dan keadaan spesifik. Namun, pada umumnya, motivasi yang paling kuat mendasari tindakan saya adalah keinginan untuk menjadi pemelajar sepanjang hayat dan menjadi teladan bagi murid-murid saya, rekan guru, serta lingkungan saya. Meskipun dalam beberapa situasi mungkin ada pengaruh, seperti menghindari teguran atau mendapatkan penghargaan dari orang lain, namun motivasi untuk menjadi pemelajar yang bertanggung jawab dan teladan yang menghargai nilai-nilai kebajikan diri saya sendiri memiliki dampak yang lebih signifikan.

Bila di sekolah Anda tidak ada aturan yang memberikan surat teguran bagi karyawan yang sering datang terlambat, atau tidak ada atasan yang memberikan Anda penghargaan menjadi karyawan terbaik, karena sering tepat waktu, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda.

Ya, saya akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid saya, meskipun tidak ada aturan yang memberikan surat teguran atau penghargaan karyawan terbaik. Alasan utama saya adalah komitmen saya terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Saya percaya bahwa datang tepat waktu adalah bagian dari profesionalisme dan integritas sebagai seorang guru.

Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi yang disebutkan pada pertanyaan sebelumnya, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan.

ke 3 motitivasi ada semua, mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah. menghindari hukuman atau mencari penghargaan dari orang lain, mungkin dapat memberikan dorongan sementara untuk berperilaku tertentu, tetapi seringkali tidak bertahan lama atau tidak memiliki dampak yang signifikan pada pembelajaran dan perkembangan pribadi. Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, menjadi teladan yang menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri dapat memberikan contoh yang kuat bagi murid-murid, rekan guru, dan lingkungan sekolah secara keseluruhan. Ini dapat menciptakan budaya sekolah yang positif, memotivasi siswa untuk meraih prestasi, dan membangun komunitas belajar yang berpusat pada nilai-nilai yang dihargai dan dipraktikkan bersama.

Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid Anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?

Mendirikan aturan dan ekspektasi yang jelas: Saya telah bekerja sama dengan murid-murid untuk menyusun aturan kelas bersama yang mencerminkan nilai-nilai kebajikan dan norma-norma perilaku yang diharapkan dalam lingkungan belajar. Memberikan penguatan positif: Saya secara konsisten memberikan pujian, penghargaan, dan pengakuan kepada murid-murid yang menunjukkan perilaku yang sesuai dengan aturan dan ekspektasi kelas. Membangun hubungan yang positif: Saya berusaha untuk membangun hubungan yang akrab dan saling percaya dengan setiap murid. Menyediakan pembelajaran yang relevan dan menarik: Saya merancang pembelajaran yang menarik dan bermakna, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan individual murid Hasil dari penerapan strategi-strategi ini telah menghasilkan perubahan yang positif dalam perilaku murid-murid saya. Mereka lebih sadar akan aturan dan ekspektasi kelas, lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, dan lebih mampu menyelesaikan konflik secara damai.

Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid Anda di kelas/sekolah Anda? Mengapa?

Empati: Kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain merupakan kunci untuk membangun hubungan yang baik, memecahkan konflik, dan menciptakan lingkungan yang inklusif. Tanggung jawab: Memiliki kesadaran atas tugas dan kewajiban yang dimiliki dalam lingkungan sekolah dan masyarakat adalah landasan dari kemandirian dan integritas. Keterbukaan dan keberagaman: Memahami dan menghargai perbedaan antara individu, termasuk perbedaan budaya, agama, dan latar belakang, penting dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan hormat. Ketulusan: Nilai ketulusan atau kejujuran adalah fondasi dari integritas dan kepercayaan Keberanian: Dalam menghadapi tantangan dan perubahan, memiliki keberanian untuk mengambil risiko dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini merupakan kunci untuk pertumbuhan pribadi dan kemajuan. Nilai-nilai kebajikan ini penting karena mereka membantu membentuk karakter, moral, dan etika murid-murid. 

2024-05-15

1.4.a.3. Mulai dari diri - Modul 1.4

 


14 mei 2024 sudah mulai dengan modul 1.4 tentang budaya positif.

Forum Komunikasi Modul 1.4

Forum komunikasi ini disediakan sebagai sarana komunikasi antara fasilitator dan peserta selama mempelajari Modul 1.4 Budaya Positif.

Fasilitator dan peserta dapat menuliskan pertanyaan dan saling memberikan respon untuk membangun pemahaman.

Pada forum ini saya menayakan Apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh sekolah dalam menciptakan dan mempertahankan budaya positif?

Jawaban di berikan oleh teman CGP lainnya yaitu ibu Niken tantangan terbesarnya menurut saya ketidak konsistenan dalam menerapkan budaya positif ini

 

1.4.a.3. Mulai dari diri - Modul 1.4

Tujuan Pembelajaran khusus:

·       Mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah.

·       Mengamati bagaimana sistem rancangan di sekolah masing-masing dapat menciptakan lingkungan positif serta mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara.

Untuk memulai pembelajaran di modul budaya positif ini, marilah melakukan pengamatan, dan berefleksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan  berikut:

Apa pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan Anda?

Menciptakan suasana positif di sekolah memiliki dampak penting: Meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional siswa, guru, dan staf sekolah. Mendorong motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik. Memperkuat hubungan antarpersonal di antara anggota komunitas sekolah. Mencegah perilaku negatif seperti intimidasi atau konflik antar siswa. Mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa. Membentuk identitas sekolah yang kuat dan menginspirasi.

Sebagai seorang pendidik dan/atau pimpinan sekolah, bagaimana Anda dapat menciptakan suasana positif di lingkungan Anda selama ini?

Sebagai seorang pendidik atau pemimpin sekolah, langkah-langkah konkret untuk menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah adalah: Menetapkan Visi dan Nilai: Bersama staf dan anggota komunitas, tetapkan visi dan nilai yang menjadi landasan budaya sekolah. Modelkan Perilaku Positif: Jadilah contoh bagi siswa dan staf dengan menunjukkan perilaku seperti kesabaran, empati, kerja sama, dan rasa hormat. Komunikasi Terbuka dan Dukungan: Ciptakan saluran komunikasi terbuka dengan siswa, staf, orang tua, dan komunitas lainnya, dan berikan dukungan yang diperlukan. Membangun Keterlibatan Siswa: Aktifkan partisipasi siswa dalam pengambilan keputusan sekolah dan rencana kegiatan. Memberdayakan Staf: Dukung staf dengan pelatihan dan sumber daya yang diperlukan untuk berkembang secara profesional. Menyediakan Dukungan Emosional dan Sosial: Sediakan layanan dukungan emosional dan sosial bagi siswa dan staf. Menangani Konflik dengan Bijaksana: Hadapi konflik dengan cara yang mendidik dan berfokus pada solusi.

Apakah hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid?

Menciptakan suasana positif di sekolah berdampak positif pada proses pembelajaran murid dengan meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan siswa, kesetaraan dalam pembelajaran, mengurangi gangguan dan stres, serta memungkinkan pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Ini memungkinkan siswa untuk berkembang dan mencapai potensi penuh mereka dalam lingkungan yang mendukung dan kondusif.

Bagaimana penerapan disiplin saat ini di sekolah Anda, apakah sudah diterapkan dengan efektif, bila belum, apa yang menurut Anda masih perlu diperbaiki dan dikembangkan?

Penerapan disiplin masih kurang efektif, yang perlu di perbaiki dan di tingkatkan adalah

• Konsisten : Penting untuk memastikan konsistensi dalam menerapkan aturan dan konsekuensi di seluruh sekolah. Hal ini membantu menciptakan lingkungan yang dapat diprediksi dan adil bagi semua siswa.

• Edukasi dan Pembinaan: Memberikan pendidikan dan pembinaan kepada siswa tentang aturan sekolah dan konsekuensinya dapat membantu meningkatkan pemahaman mereka tentang ekspektasi dan tanggung jawab mereka.

• Evaluasi dan Pemantauan: Terus-menerus mengevaluasi efektivitas sistem disiplin dan memantau tren perilaku siswa dapat membantu dalam mengidentifikasi area yang perlu perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

Bapak dan Ibu calon guru penggerak,

Selanjutnya Anda dapat melakukan pengamatan dan refleksi terhadap bagaimana kita dapat menciptakan sebuah budaya positif, dengan melakukan serangkaian kegiatan di bawah ini:

·       Sediakan waktu khusus, pejamkan mata, dibantu musik instrumental yang sesuai, kemudian bayangkan sekolah impian Anda. Ingat kembali gambaran sekolah impian yang Anda tulis saat mempelajari modul 1.3. Bagaimana suasana sekolahnya? Bagaimana sikap gurunya? Bagaimana tutur kata guru? Bagaimana guru bersikap kepada murid-muridnya? Bagaimana sikap murid-muridnya, bagaimana mereka saling berinteraksi, terhadap Anda, sebagai pimpinan sekolah dan terhadap guru-guru yang lain?

·       Untuk mewujudkan sekolah impian tersebut, bila Anda adalah seorang pemimpin di sekolah Anda,  bagaimana Anda akan menciptakan sebuah lingkungan yang positif di sekolah Anda?  Apa strategi yang akan Anda pilih? Bagaimana Anda akan menerapkan disiplin positif, apa yang perlu kita lakukan terlebih dahulu? Tentunya, salah satu hal yang paling penting adalah kita perlu menghilangkan rasa takut dalam diri murid-murid sehingga mereka merasa aman dan nyaman berada di sekolah, dan bahwa membuat kesalahan adalah suatu proses pembelajaran itu sendiri. Hanya dengan demikian, semua murid dapat belajar dengan rasa tenang, tanpa tekanan dan nyaman.

jawaban

1.       Dalam suasana hening, saya memikirkan sekolah impian saya di mana kasih sayang dan semangat mengalir, menciptakan rasa damai dan inspirasi. Para guru tidak hanya pengajar, tetapi juga teladan dalam sikap dan perilaku, memberikan pelajaran dengan penuh kasih dan memberikan dukungan tak tergantikan kepada setiap siswa. Murid-murid penuh semangat, saling mendukung, dan berinteraksi dengan hormat, menghormati visi dan nilai-nilai sekolah. Di sekolah impian saya, terdapat keakraban di antara seluruh anggota komunitas, menciptakan suasana hangat, kerja sama, dan dukungan bagi setiap individu.

2.       Untuk menciptakan lingkungan yang positif di sekolah, saya akan menetapkan visi dan nilai bersama staf dan komunitas sekolah, memodelkan perilaku positif, memastikan komunikasi terbuka dan dukungan bagi semua anggota, membangun keterlibatan siswa dalam pengambilan keputusan, memberdayakan staf dengan dukungan dan pelatihan, menerapkan disiplin positif dengan fokus pada pembelajaran, dan menciptakan suasana aman dan nyama

 

Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada diri Anda, sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki pengaruh pada warga sekolah, terutama murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, saya berharap dapat mengembangkan beberapa hal sebagai pemimpin pembelajaran yang berpengaruh:

• Kemampuan memimpin dengan inspirasi, memotivasi staf dan siswa mencapai potensi penuh mereka.

• Membangun hubungan yang kuat dengan staf, siswa, dan orang tua, menciptakan ikatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

• Menerapkan disiplin positif dengan bijaksana, menjadikannya sebagai alat pembelajaran dan pertumbuhan.

• Menjadi teladan dalam sikap dan perilaku, memperlihatkan nilai-nilai seperti kesabaran, empati, dan kerja sama.

• Menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif, di mana setiap siswa merasa diterima dan didukung.

• Menghadapi tantangan dengan bijaksana, memberikan contoh positif dalam menangani situasi sulit.

• Menumbuhkan rasa percaya diri dan kesuksesan siswa, memberikan dukungan dan pembimbingan yang diperlukan. Dengan mengembangkan hal-hal ini, saya berharap menjadi pemimpin pembelajaran yang efektif, menciptakan perubahan positif dalam kehidupan siswa.

Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, saya berharap melihat beberapa perkembangan pada murid-murid saya: Kesadaran akan Pentingnya Pendidikan Positif, Kemampuan Mengelola Konflik dengan Bijaksana, Peningkatan Keterampilan Sosial dan Emosional, Kepemimpinan yang Positif, Peningkatan Keterlibatan dan Partisipasi, Peningkatan Kesejahteraan Mental dan Emosional, Pengembangan Sikap yang Positif terhadap Pembelajaran

 

Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?

Modul ini dirancang untuk menyertakan berbagai kegiatan pembelajaran interaktif, materi yang beragam dan relevan, penerapan prinsip-prinsip teori dalam praktik, dukungan dan umpan balik yang memadai, serta refleksi dan evaluasi. Tujuannya adalah memberikan pengalaman pembelajaran yang komprehensif dan bermanfaat bagi peserta, sehingga mereka dapat menjadi pemimpin pendidikan yang lebih efektif dan berpengaruh.